Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada perdagangan hari Kamis, 20 Agustus 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil menguat lebih dari 1% dan ditutup melewati ambang batas penting. Pada akhir sesi kedua, IHSG bertengger di posisi 6.501,58, mencatat kenaikan sebesar 107,46 poin atau setara dengan 1,68%. Pergerakan indeks hari tersebut dimulai dengan pembukaan di level 6.447,25, sebelum akhirnya sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.514 dan level terendah pada angka 6.444,4.
Lonjakan ini didorong oleh aktivitas transaksi yang ramai di lantai bursa. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp15,01 triliun, dengan volume perdagangan melibatkan 43,68 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,29 juta kali transaksi. Penguatan indeks juga tercermin dari apresiasi harga saham yang merata. Sebanyak 452 saham terpantau bergerak di zona hijau, sementara 190 saham mengalami penurunan, dan 150 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Sektor bahan baku menjadi motor penggerak utama dalam pergerakan kali ini dengan mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 4,03%. Selain itu, sektor konsumer primer juga ikut menopang laju indeks dengan kenaikan sebesar 2,52%, diikuti oleh sektor konsumer non-primer yang menguat 1,81%. Secara individu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar bagi pergerakan IHSG dengan sumbangan mencapai sekitar 14,82 poin. Di posisi berikutnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turut memberikan kontribusi positif sebesar 9,52 poin, disusul oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menyumbang 9,41 poin.
Respons Toba Pulp Lestari Terkait Isu Korupsi Pajak Rp2 Triliun

Dari dalam negeri, stabilitas kebijakan moneter menjadi sentimen yang diperhatikan oleh pelaku pasar. Bank Indonesia, dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada tanggal 18 hingga 19 Agustus 2026, memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan ini sejalan dengan langkah bank sentral yang juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 5% serta Lending Facility pada level 6,5%. Kebijakan penahanan suku bunga ini memberikan kepastian di tengah dinamika ekonomi domestik.
Di sisi lain, sentimen global turut memberikan dorongan bagi pasar keuangan. Departemen Keuangan AS memutuskan untuk melipatgandakan program pembelian kembali obligasi menjadi minimal US$4 miliar per operasi. Langkah ini diiringi dengan penurunan Indeks Dolar AS sebesar 0,84% ke level 98,83. Tekanan terhadap mata uang AS ini juga muncul di tengah desakan Presiden AS Donald Trump kepada Federal Reserve agar menurunkan suku bunga acuan. Dari pasar komoditas, harga minyak mentah dunia ikut naik, di mana minyak mentah jenis WTI menguat 0,77% ke level US$85,59 per barel, sementara Brent naik 0,44% menjadi US$91,42 per barel. Sementara itu dari regional Asia, pelaku pasar juga tengah mengantisipasi kebijakan suku bunga China, dengan ekspektasi Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun tetap berada di level 3% dan LPR tenor 5 tahun di level 3,5%.
Strategi Baru Kementerian Keuangan Perkuat UMKM Melalui PIP dan LPEI

Dengan IHSG yang berhasil menembus level psikologis 6.500, pelaku pasar terus memantau berbagai indikator ekonomi untuk melihat arah pergerakan selanjutnya. Keberlanjutan tren penguatan ini diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh realisasi kebijakan suku bunga global, fluktuasi harga komoditas energi, serta langkah stabilitas ekonomi domestik. Investor diharapkan tetap mencermati perkembangan sentimen global dan domestik secara menyeluruh.






