Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan impor minyak mentah dari Rusia merupakan kebijakan pemerintah yang disepakati melalui skema kontrak antarpemerintah atau government-to-government (G-to-G) yang berakhir pada government-to-business (G-to-B).
Bahlil menegaskan bahwa pengadaan minyak mentah tersebut dilakukan murni demi kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa. Mengacu pada prinsip Indonesia yang menganut mazhab politik luar negeri bebas aktif, Bahlil menggarisbawahi bahwa langkah strategis ini tidak boleh diintervensi oleh pihak mana pun. Ia juga mengonfirmasi bahwa realisasi pengiriman minyak dari Rusia sudah mulai berjalan di lapangan.
Penugasan Melalui BLU Lemigas
Pemerintah telah menetapkan bahwa pelaksanaan impor minyak mentah asal Rusia ini bukan merupakan aksi korporasi dari PT Pertamina (Persero). Proses pengadaan tersebut dilakukan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Aliansi BRICS Satukan Kekuatan di India, Saatnya Barat Gemetar?

Ketentuan yang memberi kewenangan kepada Lemigas sebagai salah satu BLU untuk melakukan pengadaan, termasuk mengimpor minyak mentah serta bahan bakar minyak (BBM), telah memiliki landasan hukum yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.
Komitmen 150 Juta Barel dari Rusia
Kepastian pasokan komoditas ini sebelumnya telah disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo. Hashim menyebutkan bahwa Indonesia memperoleh komitmen pasokan sebesar 150 juta barel minyak mentah dari Rusia dengan penawaran harga khusus.
Indonesia Perkuat Perikanan Skala Kecil melalui KNMP di Forum FAO

Komitmen pasokan minyak berharga khusus ini didapatkan menyusul kunjungan kerja dan pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, yang berlangsung selama tiga jam pada Senin (13/4/2026).
Saat berbicara dalam acara Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026), Hashim merinci bahwa dalam pertemuan awal bersama Putin, pihak Rusia semula menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak mentah berharga khusus. Namun, kuota tersebut kemudian disepakati bertambah 50 juta barel lagi untuk memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.






