PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan penurunan total utang sebesar Rp 2,15 triliun sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026. Perbaikan struktur liabilitas ini berjalan beriringan dengan peningkatan kinerja operasional, di mana Gross Profit Margin (GPM) perseroan pada kuartal II 2026 melonjak menjadi 14,1% dari posisi 8,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian positif tersebut merupakan kelanjutan dari transformasi penyehatan keuangan yang konsisten dijalankan WIKA sejak 2023. Tonggak utama dari pemulihan ini berpijak pada keberhasilan restrukturisasi keuangan tahap I yang resmi disepakati pada 28 Februari 2024.
Berdasarkan Laporan Keuangan perseroan hingga 30 Juni 2026, WIKA telah melunasi kewajiban kepada kreditur perbankan dan pemegang surat utang senilai total Rp 4,17 triliun sejak implementasi restrukturisasi. Dari total realisasi tersebut, porsi pembayaran sebesar Rp 915,83 miliar diselesaikan dalam kurun waktu kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.
Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan, Ini Biaya yang Bikin Maskapai Boncos

Selain kewajiban perbankan dan pasar modal, WIKA juga memprioritaskan pelunasan kewajiban kepada para mitra kerja. Sejak restrukturisasi tahap I bergulir, total utang kepada rekanan bisnis telah dipangkas sebesar Rp 5,02 triliun. Khusus pada periode kuartal II 2025 sampai kuartal II 2026, penurunan utang mitra kerja tercatat sebesar Rp 1,23 triliun, sehingga sisa saldo kewajiban kepada mitra kerja kini berada pada posisi Rp 4,32 triliun.
Perbaikan Operasional dan Penguatan Likuiditas
Kenaikan margin laba kotor hingga 14,1% ditopang oleh keunggulan aktivitas lini bisnis utama, khususnya pada segmen Infrastruktur & Bangunan Gedung serta EPCC (Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning). Efisiensi dan eksekusi pada proyek-proyek inti tersebut berhasil mengantarkan perseroan membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) operasi yang positif senilai Rp 769,01 miliar.
Pertamina Sebut tak Ada Komplain Signifikan dari Pengguna B50

Arus kas operasional perseroan juga kian terkelola berkat penerapan strategi seleksi proyek yang ketat. Saat ini, sebanyak 96% dari total portofolio kontrak berjalan telah menerapkan skema pembayaran berbasis progres bulanan (monthly progress).
Strategi selektif ini dipadukan dengan optimalisasi penagihan, yang terbukti menurunkan total piutang perseroan sebesar Rp 2,07 triliun sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026. Penurunan piutang secara signifikan tersebut berdampak langsung terhadap penguatan ketersediaan likuiditas dan kesinambungan operasional perseroan.






