Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau teramati membubung hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer pada Selasa (8/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi pergerakan kolom abu tersebut mengarah ke selatan-barat daya.
Berdasarkan pengamatan BMKG pada pukul 09.00 WIB, partikel abu vulkanik menjangkau sebagian wilayah barat laut Banten dan area Samudra Hindia di sebelah barat laut Banten. Material tersebut terbawa angin dengan kecepatan berkisar antara 5 hingga 10 knot atau 9,3 hingga 18,5 kilometer per jam. BMKG terus melakukan pengawasan secara waktu nyata menggunakan citra satelit dan data meteorologi penerbangan untuk memantau perubahan konsentrasi maupun arah sebaran abu.
Pembukaan Kembali Bandara Terdampak
Kondisi ruang udara di sejumlah wilayah mulai membaik seiring pemantauan berkala. Berdasarkan hasil pengujian uji kertas (paper test) hingga pukul 06.00 WIB, delapan bandara yang sebelumnya ditutup dipastikan negatif dari paparan abu vulkanik. AirNav Indonesia kemudian menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) agar bandara-bandara tersebut dapat kembali melayani penerbangan secara bertahap.
Detik-detik 5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Gunung Anak Krakatau

Operasional Bandara Soekarno-Hatta dibuka kembali mulai pukul 00.30 WIB, diikuti Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 00.40 WIB, dan Bandara Husein Sastranegara pada pukul 00.42 WIB. Selanjutnya, Bandara Budiarto Curug kembali beroperasi pada pukul 01.25 WIB dan Bandara Pondok Cabe pada pukul 01.28 WIB.
Tiga bandara lainnya menyusul beroperasi normal pada pagi hari, yakni Bandara Muhammad Taufik Kiemas pada pukul 09.31 WIB, Bandara Radin Inten II pada pukul 09.45 WIB, serta Bandara Salakanagara Tanjung Lesung pada pukul 09.50 WIB.
Kronologi Rombongan Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Pembersihan Atmosfer Melalui Modifikasi Cuaca
Untuk menekan dampak sebaran debu di udara, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah berlangsung sejak 7 September 2026.
Operasi tersebut difokuskan untuk mempercepat proses pembersihan material abu dari atmosfer. Upaya penanganan dilakukan lewat metode penyemaian awan hujan serta penyemprotan water mist. Dua pesawat Cessna Caravan dikerahkan dalam misi ini, dengan basis operasional di Posko Bandara Pondok Cabe dan Bandara Halim Perdanakusuma.






