Tim Peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan inovasi pengolahan limbah biomassa pertanian dan perkebunan menjadi energi alternatif serta produk bernilai tambah. Menggunakan teknologi pirolisis simultan, beragam material sisa yang selama ini minim pemanfaatan鈥攎ulai dari tempurung, kulit buah, hingga tongkol jagung鈥攄ikonversi menjadi arang (charcoal) dan asap cair sekaligus.
Guru Besar Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI sekaligus pakar energi dan lingkungan, Prof. Andi Aladin, menjelaskan bahwa pirolisis bekerja melalui mekanisme penguraian biomassa berkarbon lewat pemanasan pada kondisi oksigen yang sangat terbatas. Proses ini memungkinkan limbah padat diubah menjadi produk padat dan cair tanpa terbuang percuma.
Untuk memaksimalkan konversi tersebut, tim peneliti merancang reaktor pirolisis simultan berdinding tiga (three-layer) berbahan baja tahan karat (stainless steel). Reaktor bekerja dalam sistem tertutup yang dirancang untuk menghasilkan arang sekaligus menangkap uap pirolisis agar dapat dikondensasikan menjadi cairan asap.
Legislator Kritik BMKG, Pakai Bahasa yang Mudah Dimengerti

Sistem reaktor ini juga dilengkapi isolator termal yang dapat dilepas-pasang guna menekan kehilangan panas ke lingkungan luar, sehingga konsumsi energi berjalan lebih efisien. Ruang isolator pada dinding reaktor tersebut turut difungsikan untuk membantu proses pengeringan awal biomassa basah sebelum masuk ke tahap pemanasan utama. Pada pengujian teknis, reaktor beroperasi pada rentang suhu 300 hingga 500 derajat Celsius dengan durasi pirolisis rata-rata sekitar 2,5 jam.
Berdasarkan data pengembangan prototipe, rendemen hasil yang diperoleh mencapai sekitar 37 persen arang dan 42 persen asap cair. Arang yang dihasilkan tercatat memiliki nilai kalor tinggi, yakni di kisaran 6.000 hingga 7.000 kilokalori per kilogram.
Potensi pemanfaatan arang tersebut tidak terbatas pada bahan bakar padat atau bahan baku pembuatan briket energi semata. Karakteristik arang ini juga membuka peluang aplikasi sebagai bioadsorben dalam pengolahan limbah cair industri, hingga media penyaring dan penjernih produk pangan seperti minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO).
Anak Krakatau Masih Erupsi, BMKG Sebut Abu Tak Mengarah ke Jakarta

Di sisi lain, produk asap cair yang terkondensasi diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian berkelanjutan. Senyawa cair ini berpotensi dikembangkan menjadi biopestisida ramah lingkungan untuk mengendalikan hama tanpa meninggalkan residu kimia berbahaya.
Saat ini, prototipe reaktor pirolisis tiga lapis tersebut masih diarahkan menjalani serangkaian pengujian lanjutan secara menyeluruh. Evaluasi difokuskan pada pemantauan kestabilan suhu, efisiensi energi, performa pada berbagai variasi bahan baku, aspek keselamatan operator, hingga konsistensi mutu produk arang dan asap cair yang dihasilkan.






