Kaspersky Security Network merilis data terbaru mengenai lanskap keamanan siber di wilayah Asia Pasifik sepanjang paruh pertama tahun 2026. Selama rentang waktu Januari hingga Juni 2026, sistem mereka berhasil melacak dan memblokir sebanyak 75 juta serangan daring di kawasan tersebut. Pada periode ini, ancaman berupa pintu belakang (backdoor) serta pencurian kredensial terpantau masih mendominasi aktivitas kejahatan siber.
Peningkatan intensitas serangan ini sejalan dengan adopsi teknologi baru oleh para peretas. Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) oleh pelaku kejahatan siber menjadikan ancaman saat ini lebih lincah, adaptif, serta sukar dilacak. Kepala unit riset Asia Pasifik di Kaspersky GReAT, Sergey Lozhkin, menjelaskan bahwa aktor jahat makin sering menggunakan AI guna menjalankan pengintaian secara otomatis sekaligus mempercepat proses pembuatan perangkat lunak berbahaya. Sebagai gambaran nyata dari kemampuan otonom teknologi ini, sebuah sistem agen AI di Australia diketahui mampu mengeksploitasi kerentanan pada jaringan sebuah pusat kebugaran secara mandiri demi memanipulasi daftar antrean.
Kerentanan di tingkat regional juga terlihat dari persebaran target serangan tingkat tinggi. Tiongkok, India, Myanmar, Pakistan, dan Vietnam masuk dalam daftar lima dari 12 negara di dunia yang paling banyak menjadi sasaran kelompok Advanced Persistent Threats (APT). Selain ancaman langsung, risiko yang menyasar rantai pasok juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Laporan mencatat bahwa dalam satu tahun terakhir, nyaris sepertiga dari total organisasi di seluruh dunia melaporkan adanya insiden keamanan yang berhubungan dengan rantai pasok. Tren ini merupakan kelanjutan dari tahun 2025, di mana Kaspersky menemukan 19.484 paket berbahaya yang mencerminkan lonjakan 37 persen dari tahun sebelumnya, diiringi peningkatan volume deteksi perangkat peretasan (hacktool) sebesar 11 persen secara tahunan.
Benarkah Mimpi Pintu Menuju Alam Semesta Paralel? Ini Penjelasan Pakar Fisika

Di sisi lain, tekanan terhadap infrastruktur digital global diperparah oleh temuan Akamai yang merekam sebanyak 65 miliar serangan antarmuka pemrograman aplikasi (API) sepanjang 2025. Studi Kaspersky mengungkapkan bahwa 85 persen bisnis global saat ini perlu memperketat keamanan rantai pasokan mereka. Namun, upaya ini menghadapi kendala nyata di tengah krisis ketersediaan tenaga kerja TI yang berkualitas. Di Indonesia sendiri, tantangan keamanan makin meluas mengingat riset Kaspersky membeberkan bahwa 77 persen warga mengandalkan telepon seluler sebagai gawai utama untuk berselancar di internet.
Di luar ancaman rantai pasok, taktik spionase siber dan penipuan terhadap konsumen juga terus berkembang. Microsoft baru-baru ini membongkar operasi spionase siber bernama CaptiveCrunch yang dilancarkan oleh kelompok Storm-2945. Kelompok tersebut diketahui meretas jaringan Wi-Fi di hotel guna menyedot data penting milik tamu perjalanan bisnis. Sementara itu, di sektor konsumen, para peretas mengeksploitasi tingginya minat masyarakat terhadap pemesanan awal gim GTA VI sebagai celah untuk merampas informasi perbankan dan aset kripto milik pengguna.
Fakta di Balik Dampak Fast Charging Terhadap Battery Health Ponsel

Di tengah berbagai tantangan keamanan dan integritas data tersebut, transparansi ekosistem digital dan keuangan menjadi perhatian berbagai pihak. Terkait hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaruh harapan agar MSCI dapat secara adil menilai tingkat transparansi pasar Indonesia, yang kini makin dituntut untuk memiliki infrastruktur teknologi dan pelaporan yang aman dari ancaman siber.






