Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 5 hingga 10 persen dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini terjadi menyusul kemunculan kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kepekatan asap meningkat. Peringatan ini ditujukan secara khusus kepada kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan.
Kelompok rentan tersebut mencakup warga lanjut usia, ibu hamil, bayi, balita, serta penderita penyakit jantung dan asma. Buruknya kualitas udara akibat partikel asap diketahui dapat memicu serangan asma kambuh pada orang yang memiliki riwayat penyakit tersebut. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah disarankan mengenakan masker guna menekan risiko paparan polutan.
Geger Arya Wedakarna Bawa Ajudan TNI ke Kontes Transgender, Lanal Denpasar Lakukan Pemeriksaan

Meski kabut asap menjadi pemicu nyata, Saptiko menjelaskan bahwa tren kenaikan kasus ISPA ini tidak hanya bersumber dari karhutla semata, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kesehatan lainnya.
Kualitas Air dan Imbauan Penampungan Air Hujan
Selain persoalan pernapasan, kondisi kesehatan masyarakat terkait ketersediaan air bersih selama musim kemarau di Pontianak terpantau masih terkendali. Menurut Saptiko, sejauh ini belum ditemukan lonjakan penyakit yang diakibatkan oleh penurunan kualitas air.
Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Hadiri EEF Ke-11 di Vladivostok Rusia

Dinas Kesehatan Kota Pontianak terus memantau depot usaha pengisian ulang air galon guna memastikan standar kebersihan dan higienitas air minum masyarakat tetap terjaga. Terkait penggunaan air payau atau asin untuk kebutuhan harian tertentu, kondisi tersebut dipastikan tidak secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan kulit.
Bagi masyarakat yang mengandalkan penampungan air hujan, dinas kesehatan menyarankan agar tidak memanfaatkan air dari curahan hujan pertama. Air hujan awal tersebut berisiko membawa kotoran serta polutan yang mengendap di udara maupun di atap bangunan.






