Berita Viral Terkini

Kemendagri dan KPK Gelar Safari Antikorupsi ke 10 Klaster Daerah

Uria KilaPublished 25 Jul 2026 - 06.562 Reads
Bagikan WhatsAppX
Kemendagri dan KPK Gelar Safari Antikorupsi ke 10 Klaster Daerah
Ilustrasi Politik. Foto: Liputan 6.
A-A+

Rangkaian penangkapan kepala daerah akibat kasus tindak pidana korupsi rupanya menjadi pukulan telak yang memicu keprihatinan mendalam di tingkat pusat. Menghadapi fenomena ini, Kementerian Dalam Negeri tidak lagi sekadar menunggu di balik meja. Sebuah langkah proaktif dan preventif berskala besar kini digulirkan untuk membentengi para pemimpin daerah dari godaan rasuah. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian saat menggelar konferensi pers bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto di Ruang Sidang Utama Kantor Kemendagri, Jakarta, pada Jumat, 24 Juli 2026.

Sebagai instansi yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah untuk melakukan pembinaan dan pengawasan, Kemendagri sebenarnya telah membekali para pejabat sejak hari pertama mereka bertugas. Mendagri mengungkapkan bahwa setiap kepala daerah dan wakilnya yang baru dilantik selalu diwajibkan mengikuti retret awal. Dalam masa orientasi tersebut, mereka dijejali dengan berbagai pembekalan krusial yang mencakup materi pencegahan korupsi, penguatan integritas, hingga wawasan kebangsaan. Namun, sistem pembekalan ini disadari harus terus dikawal dengan pengawasan yang lebih ketat di lapangan.

Untuk merapatkan barisan pencegahan, sebuah sinergi strategis dibangun bersama KPK dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ketiga lembaga ini mengandalkan instrumen Monitoring Center for Prevention (MCP) sebagai radar pemantau utama. Tidak berhenti di situ, Kemendagri juga mengencangkan sabuk pengawasan melalui optimalisasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dan penanaman nilai-nilai ASN BerAKHLAK. Pemantauan rutin terus dilakukan agar para pemangku kebijakan di daerah tidak tergelincir ke dalam lubang tindak pidana korupsi yang merugikan rakyat.

Also Read

Menteri Pertanian Siapkan Nama Calon Wakil Menteri Baru Pendampingnya

Menyadari bahwa imbauan dari ibu kota saja tidak cukup, Kemendagri dan KPK kini memilih strategi jemput bola dengan turun langsung ke daerah-daerah. Eksperimen awal dari strategi ini baru saja dieksekusi di tanah Papua, di mana Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk memimpin koordinasi langsung bersama Ketua KPK Setyo Budiyanto. Keberhasilan langkah awal ini memicu rencana yang jauh lebih masif. Pemerintah pusat bersiap melakukan safari pencegahan korupsi yang akan menyapu 10 titik klaster di seluruh penjuru Nusantara.

Safari antikorupsi ini dirancang untuk mempertemukan tim pusat dengan seluruh elemen kunci di daerah. Sasaran audiensnya sangat spesifik dan komprehensif, mulai dari kepala daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, hingga Sekretaris Daerah. Perhatian khusus juga diberikan kepada para pimpinan perangkat daerah yang memegang kendali atas sektor-sektor rawan, seperti pekerjaan umum, pendidikan, kesehatan, keuangan, manajemen aset, pengadaan barang dan jasa, manajemen pemerintahan, sumber daya manusia, aparatur sipil negara, hingga pelayanan publik.

Pemetaan 10 klaster daerah ini dilakukan secara sistematis untuk memastikan tidak ada wilayah yang terlewat. Klaster tersebut membentang dari ujung barat hingga timur Indonesia. Pembagiannya mencakup gabungan Aceh dan Sumatera Utara; Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau; serta Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung. Di pulau Jawa dan sekitarnya, klaster dibagi menjadi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten; Jawa Tengah dan DIY; serta Jawa Timur dan Bali. Sementara itu, wilayah tengah dan timur mencakup NTB dan NTT; seluruh provinsi di pulau Kalimantan; seluruh provinsi di pulau Sulawesi dan Gorontalo; hingga Maluku dan Maluku Utara.

Also Read

Aksi Kepala Badan Gizi Nasional Baru Sidak Dapur Makan Bergizi Gratis Jam Dua Pagi

Melalui intervensi langsung ke 10 klaster ini, pemerintah pusat menaruh harapan besar agar setiap daerah mampu memetakan risiko korupsi di wilayahnya masing-masing secara mandiri. Pemetaan tersebut harus bermuara pada penyusunan rencana aksi perbaikan tata kelola yang terukur dan memiliki target penyelesaian yang jelas. Namun, di atas semua instrumen dan sistem yang dibangun, Mendagri Tito Karnavian memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa kunci utama pemberantasan korupsi tetap berada pada integritas individu masing-masing pemimpin. Kasus-kasus penindakan hukum di masa lalu harus dijadikan pelajaran berharga agar tidak kembali terulang.

Pesan tegas ini turut disaksikan oleh sejumlah pejabat tinggi yang hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir dan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri Cheka Virgowansyah, beserta jajaran pejabat KPK lainnya. Kehadiran para petinggi ini menjadi simbol bahwa negara kini memasang mata dan telinga lebih dekat ke daerah, memastikan bahwa amanat rakyat tidak lagi dikhianati oleh praktik-praktik kotor di birokrasi.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca