Fajar belum lagi menyingsing ketika Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dilantik, memutuskan untuk turun langsung ke lapangan pada Jumat dini hari, 24 Juli 2026. Langkah ini menjadi aksi nyata pertamanya setelah resmi diambil sumpah jabatan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu sebelumnya. Tanpa pemberitahuan protokoler yang kaku, Sudaryono menyambangi tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Bogor, Jawa Barat. Lokasi yang disasar meliputi SPPG Pasir Kuda 03 di Bogor Barat, SPPG Cipaku 02 di Kota Bogor, dan SPPG Tegal Gundul 05 di Bogor Utara. Langkah senyap ini sengaja diambil untuk melihat kesiapan riil dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa rekayasa.
Dari hasil pantauannya di tiga titik tersebut, Sudaryono memberikan apresiasi terhadap kinerja para petugas dapur. Kebersihan dan kedisiplinan yang ditunjukkan oleh pengelola dinilai sudah memenuhi standar yang diharapkan. Namun, di balik penilaian teknis tersebut, ia menekankan aspek yang lebih mendalam kepada para kepala SPPG, pengawas gizi, hingga juru masak. Menurutnya, menyiapkan makanan untuk anak-anak sekolah bukan sekadar rutinitas mencari nafkah atau menggugurkan kewajiban distribusi. Ia meminta seluruh petugas untuk bekerja menggunakan hati dan akal sehat, memastikan setiap porsi makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi secara kasat mata maupun secara nilai gizi.
MUI Tegaskan Penolakan Terhadap LGBTQ dalam Kongres Umat Islam Indonesia

Komitmen terhadap mutu ini tidak main-main. Sudaryono menegaskan bahwa kualitas makanan tidak boleh ditawar. BGN telah menyiapkan mekanisme penghargaan dan sanksi yang tegas bagi seluruh unit pelayanan. Dapur-dapur yang berkinerja baik akan terus dipertahankan dan didukung, sementara yang masih memiliki kekurangan akan segera dibimbing untuk perbaikan. Namun, bagi SPPG yang terbukti membandel, tidak disiplin, atau mengabaikan standar keamanan pangan tanpa ada upaya perbaikan, ia tidak ragu untuk mengambil tindakan ekstrem berupa penutupan operasional dapur tersebut demi keselamatan anak-anak.
Selain pengawasan mutu di dapur, tantangan koordinasi birokrasi juga menjadi perhatian serius Kepala BGN. Sudaryono berkomitmen untuk meruntuhkan tembok-tembok birokrasi yang selama ini sering kali menyumbat arus komunikasi dalam pelaksanaan program pangan gratis. Ke depan, BGN akan mempererat sinergi dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, serta jajaran dinas terkait di tingkat daerah. Dengan keterbukaan terhadap kritik dan saran dari masyarakat, ia optimis hambatan koordinasi yang sempat terjadi pada masa lalu dapat dieliminasi sepenuhnya di bawah kepemimpinannya.
Menteri Pertanian Siapkan Nama Calon Wakil Menteri Baru Pendampingnya

Visi jangka panjang dari program ini rupanya tidak berhenti pada pengisian perut yang lapar. BGN kini tengah merancang modul edukasi gizi khusus yang akan diterapkan di sekolah-sekolah penerima manfaat. Modul ini dirancang untuk melengkapi kebiasaan baik yang sudah ada, seperti berdoa dan mencuci tangan sebelum makan. Melalui edukasi ini, para siswa akan diajarkan untuk memahami pentingnya kandungan gizi dalam makanan mereka, seperti alasan mengapa mengonsumsi sayuran sangat krusial bagi tumbuh kembang. Harapannya, kebiasaan mengonsumsi makanan sehat yang ditanamkan sejak dini ini akan terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.






