Di sebuah ruangan di lantai dua kawasan Dipatiukur, Kota Bandung, alunan lagu "Yang Terlupakan" dari Iwan Fals mengalun melalui sebuah tape deck tua. Kaset kompilasi bertajuk Prihatin seharga Rp35 ribu itu sedang dites oleh Vickry Irham sebelum diserahkan kepada pembelinya. Pria berusia 57 tahun asal Aceh tersebut tidak sekadar berdagang; ia sedang merawat sebuah ruang interaksi. Di meja kasirnya, tumpukan kaset pita bersanding dengan kertas resi pengiriman. Malam itu, rutinitasnya diselingi kedatangan dua pelanggan yang membawa martabak, bukan untuk membeli barang, melainkan melepas sebagian koleksi kaset pribadi mereka. Bagi Vickry, riung kecil dan pertukaran cerita semacam inilah yang menjadi nyawa dari pekerjaannya.
Pemandangan hangat tersebut adalah hal lumrah di DU68 Musik. Toko ini menyimpan ribuan rilisan fisik mulai dari kaset pita, cakram padat (CD), hingga piringan hitam beserta perangkat pemutarnya. Koleksinya sangat beragam dan disusun tanpa mengenal kasta genre. Di rak-rak kayunya, kaset pengajian dan murottal bisa berdiri berdampingan dengan album heavy metal, sementara musik dangdut bersisian dengan black metal atau rock klasik. Vickry berprinsip bahwa membedakan atau merendahkan satu genre sama saja dengan tidak menghargai proses kreatif para musisi pembuatnya.








