Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan arahan langsung dalam agenda Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur yang diselenggarakan di Surabaya pada Minggu (23/8). Dalam pengarahan tersebut, Megawati mengingatkan seluruh kader mengenai kedudukan penting Jawa Timur dalam sejarah kebangsaan Indonesia, khususnya julukan bagi Surabaya yang disebut oleh Bung Karno sebagai "Dapur Nasionalisme".
Penegasan sejarah ini menjadi landasan moral dan ideologis bagi seluruh struktur partai di Jawa Timur untuk memperkuat kedisiplinan organisasi, menjaga militansi, serta memperkokoh kerja politik bersama rakyat.
Memahami Makna Historis Surabaya dan Jejak Perjuangan Bung Karno
Jawa Timur memiliki kaitan erat dengan pembentukan karakter dan pemikiran Proklamator RI. Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur. Jejak historis perjuangannya terekam kuat di berbagai daerah, khususnya di Surabaya, Mojokerto, dan Blitar.
Ketika menempuh proses penggemblengan di Surabaya, Bung Karno menamatkan pendidikannya di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru langsung kepada tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto. Pada tahun 1916, Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu pusat kapitalisme global.
64 Ribu Hektare Hutan & Lahan Terbakar, Polri, 62 Persen Berhasil Dikendalikan

Di tengah dinamika kota perniagaan tersebut, Bung Karno tinggal dalam keterbatasan di sebuah kamar sempit tanpa jendela yang hanya diterangi lampu teplok. Dari ruangan tersebut, Bung Karno menyelami gagasan besar dunia dan berdialog secara intelektual melalui buku-buku karya tokoh pemikir global, antara lain:
- Thomas Jefferson
- George Washington
- William Gladstone
- Karl Marx
- Sun Yat-sen
- Mustafa Kemal Atat眉rk
- Jean-Jacques Rousseau
Melalui dialektika intelektual tersebut, Bung Karno sejak usia 16 tahun telah mulai berimajinasi dan menancapkan tekad perjuangan untuk mewujudkan Indonesia Merdeka. Pengalaman sejarah inilah yang melatarbelakangi lahirnya sebutan Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.
Menjalankan Arahan Strategis Megawati bagi Kader PDI Perjuangan
Dalam rangka mengimplementasikan nilai-nilai sejarah ke dalam aksi politik kepartaian yang konkret, Megawati Soekarnoputri memberikan sejumlah instruksi dan penegasan kepada seluruh kader PDI Perjuangan di Jawa Timur:
1. Memprioritaskan Ideologi di Atas Uang dan Kekuasaan Megawati mengingatkan agar kader tidak menjadikan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik. Kekuatan utama PDI Perjuangan bertumpu pada keteguhan ideologi, disiplin kepartaian, dan ketulusan semangat juang.
Budi Arie Tegaskan Hubungan Jokowi dan Prabowo Baik, Stop Adu Domba

1. Memperkuat Basis Pergerakan di Tingkat Akar Rumput Kader dan pengurus partai diinstruksikan untuk terus menjaga kedekatan dengan rakyat di akar rumput. Seluruh elemen partai harus turun langsung, menyatu, dan bergerak aktif mendampingi masyarakat.
1. Meneladani Militansi Sejarah Pandegiling dan Sukolilo Megawati menyoroti ketangguhan para kader banteng Jawa Timur yang telah teruji dalam sejarah perpolitikan nasional. Kawasan Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti nyata militansi arek-arek Banteng Jawa Timur dalam menghadapi tekanan politik rezim Orde Baru. Semangat daya tahan dan loyalitas ini harus terus dirawat oleh generasi penerus partai.
1. Mengembalikan Jawa Timur sebagai Kandang Banteng Struktur partai di seluruh tingkatan ditargetkan untuk mengembalikan Jawa Timur sebagai "Kandang Banteng". Secara elektoral, Megawati mematok target perolehan kursi legislatif setidak-tidaknya dapat menyamai capaian yang diraih PDI Perjuangan pada Pemilu 2019.






