Kondisi udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk akibat paparan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Paparan asap pekat ini berdampak langsung terhadap penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah serta menaikkan konsentrasi partikulat ke level yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, kabut asap menyebabkan jarak pandang mendatar menyusut drastis disertai penurunan mutu udara hingga kategori sangat tidak sehat.
Penurunan Jarak Pandang di Wilayah Riau
Data pengamatan cuaca yang diperbarui BMKG Stasiun Pekanbaru pada Minggu (23/8) pukul 16.00 WIB mencatat penurunan jarak pandang yang bervariasi di beberapa kawasan Riau. Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yudhistira, menyampaikan bahwa jarak pandang terendah terpantau di ibu kota provinsi.
Kondisi jarak pandang pada stasiun pengamatan meliputi:
- Kota Pekanbaru: 2,5 kilometer dengan kondisi kabut asap.
- Rengat: 5 kilometer dengan kondisi kabut asap.
- Pelalawan: 6 kilometer.
- Tambang: 9 kilometer.
Kondisi visual yang terbatas ini menjadi indikator langsung dari tingginya partikel asap yang tertahan di lapisan udara dekat permukaan tanah.
Hotspot Karhutla Kalsel Naik, Pasukan Darat dan Water Bombing Ditambah

Dinamika Kualitas Udara dan Konsentrasi PM 2,5
Sepanjang hari, pengukuran partikulat udara berukuran 2,5 mikron (PM 2,5) di Pekanbaru menunjukkan kualitas udara yang didominasi kategori tidak sehat. Kondisi udara bersih hanya terdeteksi pada rentang waktu yang sangat singkat.
Catatan kualitas udara berdasarkan pemantauan PM 2,5 menunjukkan pola berikut:
- Kategori Baik: Hanya terpantau pada pukul 04.00–06.00 WIB dan pukul 11.00–13.00 WIB.
- Kategori Tidak Sehat: Berlangsung pada sebagian besar waktu di luar jam-jam tersebut.
- Kategori Sangat Tidak Sehat: Terjadi menjelang petang, tepatnya pukul 17.00 WIB dan 18.00 WIB, dengan konsentrasi PM 2,5 menembus 170 mikrogram per meter kubik.
Kenaikan konsentrasi PM 2,5 pada sore hari memperlihatkan akumulasi polutan yang kian padat seiring meningkatnya intensitas asap di atmosfer perkotaan.
Peta Sebaran Titik Panas di Pulau Sumatera
Kemunculan kabut asap di Pekanbaru berkaitan erat dengan eskalasi titik panas (hotspot) yang terdeteksi di berbagai provinsi di Pulau Sumatera. Data BMKG pada Minggu sore (23/8) mengonfirmasi keberadaan total 1.754 titik panas di seluruh wilayah Sumatera.
64 Ribu Hektare Hutan & Lahan Terbakar, Polri, 62 Persen Berhasil Dikendalikan

Sumatera Selatan mencatat konsentrasi titik panas tertinggi, disusul oleh Riau di peringkat kedua. Rincian sebaran titik panas di Sumatera adalah:
- Sumatera Selatan: 973 titik
- Riau: 306 titik
- Jambi: 198 titik
- Lampung: 119 titik
- Bangka Belitung: 87 titik
- Kepulauan Riau: 36 titik
- Sumatera Utara: 16 titik
- Sumatera Barat: 10 titik
- Aceh: 5 titik
- Bengkulu: 4 titik
Konsentrasi Titik Panas di Kabupaten dan Kota Riau
Dari total 306 titik panas yang terpantau di Provinsi Riau, sebaran terbanyak berada di wilayah pesisir dan dataran rendah bagian selatan dan tengah provinsi. Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hilir menjadi penyumbang terbesar jumlah hotspot.
Berikut distribusi lengkap titik panas di kabupaten/kota se-Riau:
- Kabupaten Pelalawan: 161 titik
- Kabupaten Indragiri Hilir: 101 titik
- Kabupaten Siak: 20 titik
- Kabupaten Rokan Hulu: 5 titik
- Kabupaten Indragiri Hulu: 5 titik
- Kabupaten Kuantan Singingi: 4 titik
- Kabupaten Rokan Hilir: 4 titik
- Kota Dumai: 1 titik
Dominasi titik panas di Pelalawan dan Indragiri Hilir mencerminkan tingginya potensi karhutla di kedua wilayah tersebut, yang berkontribusi langsung terhadap pasokan asap ke daerah sekitarnya, termasuk Kota Pekanbaru.






