Implementasi transportasi udara masa depan semakin mendekati kenyataan melalui inovasi kendaraan udara tanpa awak atau electric vertical take-off and landing (eVTOL). Salah satu produsen asal China, EHang, telah memamerkan taksi terbang tanpa awaknya yang melayang di atas zona inovasi di Guangzhou pada akhir November 2025. Di Indonesia, teknologi mobilitas modern ini juga telah mulai diperkenalkan. Catatan resmi menunjukkan bahwa EHang sudah melakukan penerbangan armada taksi udara mereka di wilayah Bali dan Jakarta.
Melalui model EH216-S, EHang menghadirkan pesawat lepas landas dan pendaratan vertikal bertenaga listrik yang dirancang khusus untuk membawa penumpang manusia. Pesawat ini beroperasi sepenuhnya tanpa pilot di dalam kabin, di mana seluruh kendali dan komando perjalanan diatur melalui pusat kontrol dengan sistem kendali cerdas. Di negara asalnya, EH216-S telah mengantongi sertifikat tipe eVTOL tanpa pilot pertama di dunia, sertifikat produksi, serta sertifikat kelaikan udara standar dari Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC) untuk kecepatan hingga 81 mph dan jangkauan maksimal 30 kilometer. Pengalaman terbang dengan armada ini dirasakan langsung oleh seorang penumpang bernama Bajo Winarno, yang menggambarkan penerbangan selama satu menit dengan EH216-S sebagai pengalaman yang sangat fantastis.
Kehadiran EHang di Indonesia membuka peluang baru bagi pengembangan transportasi udara masa depan. Selain melakukan penerbangan di Jakarta dan Bali, produsen ini juga pernah menjalankan simulasi penerbangan darurat di Indonesia untuk skenario seperti kemungkinan letusan gunung berapi. EHang tercatat telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra lokal di Indonesia, termasuk perusahaan otomotif besar di bidang kendaraan listrik serta perusahaan pariwisata. Keterkaitan dengan industri otomotif ini sejalan dengan laporan China Automotive Technology and Research Center (CATARC) yang menyebutkan bahwa sekitar 70 persen komponen eVTOL berasal dari kendaraan listrik.
Game Buatan Indonesia RIFTSTORM Resmi Diluncurkan Secara Global

Potensi industri mobilitas udara ini diproyeksikan akan terus berkembang pesat secara global. Laporan Morgan Stanley memperkirakan bahwa pasar kendaraan udara pribadi global dapat mencapai 1,5 triliun dolar AS pada tahun 2040, dengan China diperkirakan menguasai hampir 30 persen pangsa pasar tersebut. Di China sendiri, ekonomi ketinggian rendah telah menghasilkan 506 miliar yuan atau sekitar 70 miliar dolar AS pada tahun 2023, yang mencakup sekitar 0,4 persen dari perekonomian negara tersebut. Angka ini diproyeksikan akan melonjak tajam mencapai 3,5 triliun yuan atau sekitar 490 miliar dolar AS pada tahun 2035. Komite Pusat Partai Komunis China dan Dewan Negara bahkan telah memasukkan mobil terbang ke dalam perencanaan nasional untuk pertama kalinya pada tahun 2021.
Sejalan dengan pertumbuhan pasar tersebut, EHang menargetkan untuk memulai produksi massal armada EH216-S pada tahun 2026. Wakil Presiden EHang, He Tianxing, menyatakan bahwa perusahaan telah membangun lokasi lepas landas dan pendaratan di 20 kota di China selama dua tahun terakhir. Selain EHang, beberapa pabrikan lain juga tengah bersiap memasuki pasar komersial. Xpeng Aeroht telah memulai produksi percobaan dan menerima 600 pesanan dari konsumen Timur Tengah, sementara GAC GOVY membuka pemesanan model AirCab dengan harga di bawah 1,68 juta RMB atau sekitar Rp3,98 miliar untuk pengiriman pada akhir 2026. Merek lain seperti TCab Tech juga mencatat pesanan senilai 10 miliar dolar AS dari Uni Emirat Arab, dan Aerofugia milik Geely menargetkan operasi komersial model AE200 pada tahun 2026.
Kaspersky Deteksi 75 Juta Serangan Siber di Asia Pasifik pada Paruh Pertama 2026

Meskipun industri ini menjanjikan prospek yang cerah, sejumlah tantangan masih harus diatasi sebelum taksi terbang dapat beroperasi secara komersial dan luas. CATARC mengakui bahwa industri eVTOL saat ini masih memiliki sejumlah kekurangan, terutama dalam hal teknologi, kinerja produk, serta fasilitas pendukung. Pengembangan lebih lanjut pada infrastruktur lepas landas, regulasi ruang udara, dan pengujian keselamatan yang ketat akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan era baru mobilitas udara cerdas di masa depan.






