Berita Viral Terkini

Membangun Budaya Sadar Risiko untuk Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Uria KilaPublished 26 Jul 2026 - 04.450 Reads
Bagikan WhatsAppX
Membangun Budaya Sadar Risiko untuk Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global, manajemen risiko sering kali hanya dipandang sebagai dokumen kepatuhan yang menumpuk di meja kerja. Padahal, instrumen ini merupakan fondasi utama bagi kelangsungan hidup dan daya saing dunia usaha. Untuk menghadapi dinamika pasar yang kian kompleks, Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap manajemen risiko, bukan lagi sekadar reaksi atas krisis, melainkan sebuah budaya yang ditanamkan sejak dini melalui kolaborasi lintas sektor yang erat.

Salah satu kendala terbesar dalam membangun budaya ini adalah minimnya literasi dan pendidikan formal yang memadai. Chief Executive Officer Veda Praxis, Syahraki Syahrir, mengungkapkan bahwa kebutuhan industri terhadap tenaga ahli di bidang manajemen risiko terus melonjak tajam. Sayangnya, kurikulum di tingkat perguruan tinggi masih sangat terbatas dalam mengakomodasi kebutuhan ini. Melalui kemitraan strategis dengan Institute of Risk Management (IRM), pihaknya berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyebarkan pemahaman risiko ke dunia akademik dan masyarakat luas demi mencetak sumber daya manusia yang siap pakai.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Selaras dengan itu, GRC Partner Veda Praxis, Dadan Gunawan, menekankan bahwa manajemen risiko tidak boleh diisolasi sebagai divisi yang terpisah dari operasional bisnis sehari-hari. Ketika tata kelola organisasi dirancang dengan baik, mitigasi risiko seharusnya melekat secara otomatis di dalamnya. Dadan juga menyoroti bahwa ketidakpastian global鈥攎ulai dari ketegangan geopolitik hingga perubahan regulasi鈥攕ebenarnya menyimpan peluang besar jika dikelola dengan tepat. Kemampuan mengidentifikasi potensi masalah sejak dini akan mencegah lahirnya krisis besar dan membuat proyek pembangunan berjalan jauh lebih efektif.

Dari kacamata internasional, kematangan penerapan manajemen risiko di setiap negara memang sangat bervariasi. Head of Partnership Asia IRM, Victoria Robinson, menjelaskan bahwa sektor keuangan dan perbankan biasanya memiliki sistem mitigasi yang paling matang. Namun, prinsip dasar pengelolaan risiko sebenarnya wajib diterapkan di seluruh lini industri, mulai dari manufaktur hingga teknologi. Kolaborasi antara IRM dan Veda Praxis diharapkan mampu memadukan standar global dengan kearifan lokal untuk menciptakan kurikulum pelatihan yang relevan bagi para profesional di Indonesia dan kawasan ASEAN.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi risiko sangat bergantung pada kesadaran kolektif di dalam organisasi. Head of IT & Digital Risk Group Bank Rakyat Indonesia, Nugroho Pancayogo, menegaskan bahwa esensi dari menjalankan bisnis itu sendiri adalah mengelola risiko. Tanpa adanya kesadaran yang merata dari level staf operasional terbawah hingga jajaran direksi tertinggi, sistem manajemen risiko secanggih apa pun tidak akan berjalan efektif. Konsistensi dalam membangun budaya sadar risiko inilah yang akan menjadi penentu apakah dunia usaha Indonesia mampu bertahan dan memenangi persaingan di masa depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca