Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sejumlah kendala dalam penanganan medis pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu tantangan utama di lapangan adalah kecenderungan warga yang masih memilih pengobatan tradisional ketimbang penanganan medis profesional, kendati mengalami luka berat seperti patah tulang.
Selain faktor kepercayaan terhadap pengobatan tradisional, keterbatasan sumber daya manusia di tingkat desa sempat membuat sejumlah fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi penuh. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa korban berstatus triase merah sempat hanya dirawat mandiri di rumah.
Dari delapan kabupaten dan kota di kawasan tersebut, sebanyak tujuh kabupaten terdampak gempa dengan kerusakan terparah berada di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. Hanya Flores Timur yang dilaporkan tidak terdampak. Bencana ini juga menyebabkan dua fasilitas rumah sakit berhenti beroperasi total, masing-masing berlokasi di Manggarai dan Nagekeo.
65 Orang Ditangkap Jelang Demo 27 Agustus, Ada Pelajar dan Mahasiswa

Pemerintah memfokuskan penanganan satu hingga dua minggu pertama untuk mencegah pertambahan korban jiwa. Kasus cedera yang mendominasi pasien rujukan mencakup trauma kepala, trauma dada, hingga patah tulang pada tangan dan kaki. Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan memprioritaskan penerjunan dokter bedah dan spesialis ortopedi ke lokasi.
Untuk menjangkau desa-desa terisolasi, Kemenkes bekerja sama dengan Basarnas mengerahkan armada helikopter. Helikopter diberangkatkan membawa tenaga medis untuk menyisir korban, kemudian kembali dengan mengevakuasi pasien berkategori merah dan kuning. Rujukan medis diarahkan ke fasilitas baru seperti RSUD Komodo di Manggarai Barat dan rumah sakit di Borong, Manggarai Timur, serta didukung operasional Rumah Sakit Kapal Airlangga dan rumah sakit lapangan di Ruteng dan Nagekeo.
Sepanjang 2026, Ada 194 Kasus Kebakaran di Makassar 28 Jiwa Meninggal

Saat ini, lebih dari 95 persen pasien dengan kategori triase merah dan kuning telah teridentifikasi. Pasien berkategori hijau dialihkan ke puskesmas maupun posko pengungsian guna mencegah penumpukan di fasilitas rujukan. Penanganan kesehatan bencana ini dijalankan melalui tiga fase: fokus pengobatan pasien, reaktivasi fasilitas kesehatan, serta rehabilitasi fisik faskes yang rusak berat.






