Dominasi korporasi raksasa Amerika Serikat di pasar China kian tergerus. Di tengah pasar berpopulasi lebih dari 1,4 miliar jiwa yang sebelumnya menjadi sumber pertumbuhan utama, sejumlah nama besar seperti Nike, Starbucks, hingga produsen otomotif Detroit kini mengalami penurunan kinerja akibat menguatnya persaingan dari merek lokal serta ketegangan geopolitik AS-China.
Tekanan berat terlihat jelas pada industri pakaian olahraga. Bisnis Nike di China tercatat menyusut 30 persen sejak 2021. Pendapatan tahunan jenama perlengkapan olahraga ini bahkan menyentuh level terendah dalam delapan tahun pada musim semi 2026. Penurunan pangsa pasar Nike terjadi di saat industri pakaian olahraga China secara keseluruhan sebenarnya tumbuh lebih dari dua kali lipat selama satu dekade terakhir, mengindikasikan pergeseran minat konsumen ke jenama domestik.
Sektor makanan dan minuman juga menunjukkan dinamika serupa. Starbucks, yang telah menancapkan bisnisnya di China daratan sejak 1999, kini menghadapi persaingan sengit dari pemain lokal Luckin Coffee. Luckin Coffee berkembang pesat hingga memiliki jumlah gerai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Starbucks di China, didukung oleh penawaran harga produk yang lebih kompetitif.
Ada DSI, Nilai Ekspor RI Berpotensi Menggemuk hingga Rp 88,5 T

Kemunduran paling tajam dirasakan oleh produsen otomotif terkemuka AS. Data S&P Global Mobility menunjukkan pangsa pasar gabungan tiga raksasa Detroit鈥擥eneral Motors (GM), Ford Motor, dan Chrysler鈥攎erosot dari 21,4 persen pada 2019 menjadi sekitar 15,7 persen pada 2025. Perolehan laba kelompok otomotif tersebut di China, yang sempat mencapai sekitar US$2 miliar per tahun pada 2018, berbalik menjadi kerugian selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025.
Ford secara spesifik membukukan penurunan penjualan sebesar 32,4 persen di China sepanjang periode 2018 hingga 2022. Menghadapi tekanan berkepanjangan, pabrikan ini mulai mengatur ulang strategi operasionalnya dengan mengalihkan aktivitas manufaktur dan penjualan kembali ke AS, termasuk merencanakan pemindahan produksi model Lincoln dari China ke AS mulai 2030 mendatang.
Prabowo Resmi Luncurkan Program PLTS Kapasitas 100 GWp

Kendati tren pelemahan melanda banyak korporasi multinasional AS, sejumlah merek masih mampu bertahan. Perusahaan seperti Lululemon, Ralph Lauren, dan Kentucky Fried Chicken tetap membukukan kinerja positif di China berkat adaptasi strategi bisnis yang cepat dan responsif terhadap kebutuhan konsumen pasar lokal.






