Pasar finansial global menyaksikan salah satu penurunan portofolio tercepat ketika dana kelolaan hedge fund Situational Awareness merosot sekitar US$30 miliar atau setara Rp534 triliun hanya dalam kurun satu bulan pada Juli 2026.
Hedge fund yang didirikan oleh Leopold Aschenbrenner, mantan karyawan OpenAI berusia 25 tahun, sebelumnya mencatatkan pertumbuhan kilat. Setelah Aschenbrenner menerbitkan esai setebal 165 halaman berjudul "Situational Awareness: The Decade Ahead" pada 2024 mengenai proyeksi kecerdasan buatan, dana kelolaannya melonjak dari sekitar US$1,5 miliar pada musim panas tahun sebelumnya menjadi lebih dari US$45 miliar pada awal Juli 2026.
Ekspansi masif tersebut ditopang oleh leverage tinggi. Situational menggunakan utang hingga US$3 untuk setiap US$1 modal sendiri, ditambah instrumen derivatif kustom bernama flex options. Fasilitas pembiayaan ini didukung oleh bank-bank besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup, kendati Jefferies dan Barclays menolak ikut serta.
Perubahan Sentimen dan Jebakan Posisi Ganda
Tekanan bermula pada pertengahan Juli ketika kemunculan model AI open-source murah asal China membalikkan sentimen pasar. Portofolio Situational terpukul dari dua arah sekaligus. Saham-saham posisi beli (long) andalan mereka seperti Bloom Energy, Sandisk, dan Nebius anjlok, sementara saham-saham yang diposisikan jual (short) seperti Adobe, AppLovin, dan Figma justru mengalami reli tajam.
12 Bank di RI Tutup dalam 8 Bulan!

Pada 24 Juli, Situational sempat mengirimkan laporan berkala kepada investor yang mengakui adanya kerugian di bulan berjalan, sembari mengeklaim momen tersebut tepat untuk menambah modal. Namun sepekan setelahnya, saham-saham terkait dana ini tergelincir 9% hingga 24% seiring berlangsungnya proses degrossing atau penjualan aset untuk memangkas risiko dan leverage.
Negosiasi Kilat Menjelang Pembukaan Pasar
Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas darurat, tim Aschenbrenner berupaya menjual sebagian saham Anthropic senilai US$5 miliar dengan potongan harga 20% dan tenggat 12 jam pada Rabu, 29 Juli. Tawaran tersebut diarahkan ke beberapa pihak seperti Sequoia, Greenoaks, DFO Management milik keluarga Michael Dell, dan XN.
Di saat bersamaan, Situational menggelar pembicaraan paralel dengan Citadel dan Millennium Management guna melepas mayoritas portofolio saham likuidnya. CEO Citadel Ken Griffin terlibat langsung dalam negosiasi dari London. Citadel akhirnya menyepakati pembelian portofolio likuid tersebut dengan diskon sekitar 10% dari harga pasar pada dini hari 30 Juli.
Setelah kesepakatan dengan Citadel tercapai, Aschenbrenner membatalkan rencana penjualan saham Anthropic secara sepihak. Dokumen transaksi antara Situational dan Citadel ditandatangani sekitar pukul 09.10 pagi, hanya 20 menit sebelum pembukaan perdagangan bursa saham Amerika Serikat.
Perkuat Kolaborasi, Bank bjb dan YKEP Perluas Akses Produk Perbankan

Dampak Kerugian dan Restrukturisasi Portofolio
Secara keseluruhan, Situational menderita kerugian sekitar 67% sepanjang Juli, melenyapkan dana sekitar US$30 miliar (Rp534 triliun), meskipun kinerjanya masih mencatatkan kenaikan 80% sejak awal tahun berjalan. Kerugian ini turut berdampak pada Jane Street, salah satu investor di Situational, yang menanggung penurunan nilai sekitar US$15 miliar.
Pada akhir pekan yang bertepatan dengan gejolak portofolio tersebut, Aschenbrenner melangsungkan pernikahan dengan Avital Balwit, chief of staff CEO Anthropic Dario Amodei, di Carmel, California.
Saat ini, total dana kelolaan Situational menyusut menjadi sekitar US$15 miliar. Hedge fund tersebut kini mulai menata ulang asetnya, termasuk dengan menyalurkan investasi US$400 juta ke startup Source Foundry serta membeli saham SharonAI.






