JAKARTA — PT MRT Jakarta tengah menyiapkan konsep placemaking untuk merevitalisasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Pendekatan ini dirancang guna menyegarkan kembali denyut kawasan bersejarah tersebut melalui penataan ruang publik, pelibatan komunitas, pengaktifan kegiatan, serta pembentukan identitas yang kuat.
Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta, menyampaikan rencana tersebut dalam rangkaian kegiatan MRTJ Fellowship Program 2026. Samuel menjelaskan bahwa placemaking merupakan strategi MRT dalam menghidupkan ekosistem kawasan transit agar memiliki daya pikat fungsional bagi masyarakat luas.
Fondasi Heritage dan Denyut Perdagangan Glodok
Karakter warisan sejarah (heritage) Kota Tua akan menjadi pijakan utama dalam pengembangan placemaking. Wilayah penyangga seperti Glodok dan Petak Sembilan memiliki karakteristik khas yang memadukan arsitektur bangunan peninggalan Belanda dengan pusat aktivitas perdagangan elektronik.
Update Hari Keempat Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

MRT Jakarta juga membidik potensi untuk menghidupkan kembali pengalaman otentik perdagangan elektronik di kawasan tersebut. Interaksi khas, seperti kebiasaan pembeli menguji coba perangkat pengeras suara (sound system) secara langsung sebelum membeli, dipandang sebagai bagian dari memori dan pengalaman berharga yang ditawarkan Kota Tua.
Ruang Kreasi Seni dan Produksi Film
Selain sektor niaga tradisional, penataan kawasan Kota Tua diarahkan pada pengembangan ekosistem seni visual dan perfilman. Samuel mengungkapkan bahwa kawasan bersejarah ini sangat potensial untuk difungsikan sebagai lokasi pameran seni, fotografi, proses produksi film, hingga pengembangan fasilitas studio film.
Kebakaran TPAS Galuga Meluas hingga 7,1 Hektare, Bupati Bogor Bara masih Menyala

Strategi ini dirancang dengan diferensiasi konsep yang terukur dibanding simpul transit lainnya. Apabila penataan di Blok M menitikberatkan pada identitas budaya kaum muda perkotaan (urban youth), skena kreatif, dan nuansa nostalgia, maka Kota Tua bertumpu pada pelestarian cagar budaya yang dikolaborasikan dengan aktivitas modern, seni, film, serta karakter Glodok.
Melalui penguatan identitas di berbagai simpul transit, inisiatif ini ditargetkan mampu mendorong konsep destination tourism di Jakarta. Keberadaan destinasi tematik yang terintegrasi diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk memperpanjang durasi tinggal di ibu kota menjadi tiga hingga empat hari, dengan menjelajahi Kota Tua sebelum beralih ke kawasan Blok M.






