Nyaris satu bulan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah warga terdampak dilaporkan masih bertahan di tempat pengungsian tanpa perlengkapan dasar yang memadai, termasuk terpal dan selimut.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga, di antaranya Marchello dan Hasmi, yang hingga Jumat (11/9/2026) mengaku belum menerima bantuan terpal. Marchello menuturkan sebagian rumah keluarganya mengalami rusak parah sehingga terpaksa mengungsi, sementara ketiadaan terpal membuat mereka kesulitan mendirikan tempat berteduh darurat di tengah kondisi cuaca yang mulai diguyur hujan.
Keterlambatan penyaluran kebutuhan dasar ini menuai sorotan dari legislatif daerah. Anggota DPRD NTT yang juga Sekretaris Komisi II dan Ketua Fraksi PSI, Junaidin Mahasan, mempertanyakan kecepatan realisasi logistik ke lapangan menyusul masih banyaknya laporan keluhan warga terkait minimnya pasokan terpal, selimut, bahan makanan, hingga air minum. Junaidin mendesak pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten membuka data penyaluran bantuan secara transparan agar distribusi tepat sasaran.
Kenalan dengan Fire Blanket Yuk, Cegah Kebakaran dengan Langkah Sederhana

Merespons keluhan para pengungsi, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena meminta data identitas dan wilayah warga yang belum terlayani agar segera ditindaklanjuti oleh BPBD setempat. Ia menyebut Pemerintah Provinsi NTT telah menyerap sekitar 50 persen dari alokasi dana Rp40 miliar yang disiapkan untuk penanganan darurat bencana.
Secara keseluruhan, Presiden Joko Widodo dan pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo Subianto telah mengalokasikan total bantuan penanganan gempa NTT sebesar Rp200 miliar. Anggaran tersebut mencakup Rp40 miliar bagi Pemprov NTT dan masing-masing Rp20 miliar untuk delapan kabupaten terdampak di Flores, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, dan Flores Timur. Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengonfirmasi anggaran tersebut telah diterima oleh pemerintah daerah untuk penanganan bencana.
Kebakaran TPA Galuga Bogor Meluas, Kini Capai 7,1 Hektare

Bencana ini bermula saat gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026). Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas seismik di kawasan tersebut masih berlanjut dengan mencatat hingga 14.518 gempa susulan.






