Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan tajam pada awal perdagangan Jumat (11/9/2026). Sesaat setelah bel pembukaan berbunyi, indeks dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55% ke level 6.552,79. Tekanan jual kian menguat hanya dalam hitungan satu menit, menyeret IHSG anjlok lebih dari 1% hingga menyentuh titik terendahnya di level 6.506.
Aktivitas transaksi pada awal sesi menunjukkan dominasi aksi jual. Sebanyak 243 saham bergerak melemah, berbanding 111 saham yang menguat dan 289 saham lainnya bergerak stagnan. Volume perdagangan di menit-menit awal tercatat mencapai 2,39 miliar saham dengan nilai transaksi berkisar Rp 1,07 triliun.
Tekanan Pasar Regional dan Sentimen Global
Pelemahan IHSG sejalan dengan aksi jual serentak yang melanda bursa saham kawasan Asia-Pasifik. Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 2,7%, Nikkei 225 Jepang merosot 2,6%, dan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 1%.
Refleksi Setahun Purbaya Jadi Menkeu, Harusnya Kita Bisa Tumbuh Lebih Cepat

Sentimen pasar keuangan global terbebani oleh lonjakan harga komoditas energi serta ekspektasi kebijakan moneter ketat. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak melampaui level US$100 per barel. Kontrak minyak acuan AS dan Brent mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 19 Mei seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melesat melewati level 4,95%, mencatatkan posisi tertinggi sejak Oktober 2023. Kenaikan yield ini dipicu oleh rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS edisi Agustus yang naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, mengindikasikan tekanan inflasi tingkat grosir yang masih membandel.
Pemerintah Dorong Efisiensi dan Transformasi Industri Nasional di IEE Engineering Week 2026

Pelaku pasar kini mengantisipasi pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada 16 September mendatang. Berdasarkan data FedWatch CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed kini diperkirakan mencapai sekitar 71%, di tengah situasi di mana Bank Sentral Eropa sebelumnya telah menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, meski penjualan ritel domestik Indonesia sempat mencatatkan pertumbuhan.






