Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa laju perekonomian nasional seharusnya mampu bergerak melampaui level saat ini. Tepat satu tahun mengemban tugas di Kementerian Keuangan, ia menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat menyentuh 6 persen, 7 persen, hingga mendekati 8 persen demi menyerap angkatan kerja baru dan memulihkan kelas menengah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap sekitar 400 ribu tenaga kerja. Sementara itu, pertambahan penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 2,5 juta hingga 3 juta orang per tahun. Untuk menyerap seluruh tenaga kerja baru tersebut, perekonomian membutuhkan laju ekspansi minimal 6,5 persen hingga 7 persen per tahun鈥攕ebuah level yang belum pernah terlampaui sejak krisis 1998.
Pedagang Trotoar Kemayoran Akan Direlokasi ke Pasar Nangka Bungur

Sejak awal menjabat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Purbaya langsung berfokus menggenjot likuiditas domestik. Langkah cepat diambil dua hari setelah pelantikan dengan menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem perekonomian nasional. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menopang sektor riil non-pemerintah yang menopang lebih dari 90 persen kontribusi ekonomi Indonesia.
Injeksi likuiditas tersebut tecermin pada pergerakan angka Produk Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan ekonomi sempat melonjak ke 5,39 persen pada kuartal keempat dan menyentuh 5,61 persen pada Triwulan I-2026. Laju pertumbuhan sempat berada di angka 5,45 persen pada triwulan pertama dan mengalami sedikit perlambatan menjadi 5,29 persen pada triwulan kedua, meski tetap bertahan di atas 5 persen di tengah volatilitas global.
Minyak Jelantah dari MBG Bakal 'Disulap' Jadi Avtur Ramah Lingkungan

Momen penunjukan Purbaya sendiri berlangsung cepat. Setelah sempat dipanggil ke Hambalang oleh Presiden Prabowo sehari sebelumnya, ia baru mengetahui kepastian mandatnya sebagai Menteri Keuangan saat gladi resik terakhir di istana kepresidenan. Selain menjaga stabilitas likuiditas dan mendorong pertumbuhan, masa satu tahun kepemimpinannya juga mencakup pengelolaan berbagai kewajiban strategis, termasuk pengalihan utang proyek kereta cepat Whoosh ke bawah naungan Kementerian Keuangan.






