Tragedi kebakaran melanda sebuah sekolah di Kota Bukavu, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada Kamis (10/9/2026). Insiden tersebut merenggut sedikitnya 17 korban jiwa, termasuk sejumlah anak-anak yang berada di lokasi saat peristiwa berlangsung.
Fasilitas kesehatan di sekitar area kejadian melaporkan lonjakan korban sesaat setelah api membesar. Sebuah pusat kesehatan setempat menerima 10 jenazah korban. Sementara itu, rumah sakit lainnya menangani lebih dari 50 korban dari kalangan siswa, dengan 14 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Israel Murka Kena Hukum Inggris, Beri Waktu 30 Hari untuk Angkat Kaki

Perbedaan angka korban masih tercatat karena proses evakuasi dan pendataan dilakukan secara terpisah di masing-masing fasilitas medis yang merawat para siswa. Koordinator aliansi pemberontak AFC/M23, Corneille Nangaa, memperkirakan korban meninggal setidaknya mencapai sekitar 10 orang sembari menunggu konfirmasi data menyeluruh di lapangan.
Hingga saat ini, pihak berwenang setempat belum memastikan penyebab utama di balik kebakaran hebat tersebut. Belum ada kepastian mengenai asal muasal percikan api maupun faktor kelalaian yang memicu insiden di gedung sekolah itu.
Harta Karun' Masa Depan Ini Ternyata Tersimpan di PLTU RI

Kota Bukavu di wilayah timur DRC saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak AFC/M23 yang mendapat sokongan dari Rwanda. Wilayah tersebut berhasil direbut oleh kelompok itu setelah melancarkan operasi serangan kilat pada tahun lalu.






