Pemerintah Israel memberikan tenggat waktu 30 hari kepada Inggris untuk menutup konsulatnya di Yerusalem Timur. Tindakan keras ini diambil sebagai aksi balasan setelah London menjatuhkan sanksi terhadap barang-barang yang berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Langkah embargo tersebut diumumkan oleh Inggris bersama Prancis dan Kanada pada Selasa, 8 September 2026. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menegaskan bahwa pembatasan perdagangan itu menjadi langkah yang diperlukan guna melawan ketidakadilan di wilayah Tepi Barat.
Sebagai representasi diplomatik resmi, Konsulat Inggris di Yerusalem Timur selama ini memegang peran penting dalam menangani urusan Palestina di Yerusalem, Tepi Barat, dan Gaza. Perintah penutupan kantor ini menjadi pukulan telak bagi operasional diplomatik Inggris di kawasan tersebut.
Harta Karun' Masa Depan Ini Ternyata Tersimpan di PLTU RI

Sanksi Balasan dan Pengusiran Diplomat Inggris
Tak hanya meminta konsulat ditutup, otoritas Israel juga melarang 12 politikus asal Inggris memasuki wilayah negaranya. Pejabat dan staf diplomatik Inggris yang tengah bertugas di Tepi Barat serta di pusat koordinasi Gaza di wilayah Israel turut diperintahkan untuk segera angkat kaki.
Di samping itu, Israel mencabut izin Inggris untuk melatih pasukan keamanan Palestina di Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar melontarkan kritik keras dengan menuduh London telah melakukan campur tangan terang-terangan terhadap urusan kedaulatan negara serta proses pemilu Israel, mengingat Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang.
Meski sanksi Inggris mendapat dukungan terbuka dari sembilan negara lain, Israel tercatat belum mengambil langkah balasan terhadap negara-negara pendukung tersebut. Pemimpin oposisi parlemen Israel, Yair Lapid, sempat menyampaikan bahwa tidak ada pihak yang memperkirakan negara-negara lain akan ikut memberikan dukungan terhadap kebijakan London.
Houthi Digempur dari Berbagai Arah, Konflik Yaman Kembali Memanas

Respons Terbelah dari Amerika Serikat
Langkah Inggris dan aksi balasan dari Tel Aviv menuai tanggapan yang beragam dari sekutu utamanya, Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington tidak ingin melihat adanya hal apa pun yang dapat mengganggu stabilitas di Tepi Barat, kendati ia menolak memberikan komentar langsung mengenai sanksi yang diterapkan Inggris.
Di sisi lain, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengecam keras kebijakan London dan menuduh pemerintah Inggris mengobarkan kebencian terhadap Yahudi. Hingga saat ini, Presiden AS Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi mengenai perselisihan diplomatik tersebut.






