Badan Industri Mineral (BIM) memetakan potensi komoditas strategis masa depan berupa Logam Tanah Jarang (LTJ) yang terkandung di dalam sisa pembakaran lebih dari 250 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia.
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi mengungkapkan bahwa abu sisa pembakaran batu bara, yaitu fly ash dan bottom ash (FABA), menjadi salah satu fokus pemetaan sumber daya mineral sekunder nasional. Di samping FABA dari operasional PLTU, potensi LTJ di tanah air juga mencakup monasit, senotim, serta ion-adsorbed clay (IAC) seperti yang berada di kawasan Mamuju. Secara keseluruhan, pemenuhan LTJ dapat diperoleh melalui tiga jalur cadangan, yakni sumber primer, sekunder, hingga tersier.
Berapa Lama Aerosol Vape Vs Asap Rokok Bertahan di Udara? Simak Perbandingannya

Pemanfaatan LTJ kian mendesak seiring tren transisi energi global. Mengacu data International Energy Agency (IEA), kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat hingga enam kali lipat, sedangkan kebutuhan mineral untuk pembangkit listrik tenaga angin darat melonjak sembilan kali lipat dibandingkan sistem pembangkit listrik tenaga gas. Unsur-unsur seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) sangat dibutuhkan untuk komponen magnet permanen pada motor kendaraan listrik serta turbin angin, sementara scandium digunakan untuk paduan aluminium.
Kendati potensinya besar, pengolahan LTJ memiliki tingkat kesulitan tersendiri. LTJ tersusun atas 17 unsur logam yang berada dalam satu golongan di tabel periodik, sehingga tahapan pemisahan menjadi elemen tunggal (single element) menghadapi tantangan teknologi yang tinggi. Ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang kemudian diimpor kembali sebagai produk jadi dinilai berisiko merugikan perekonomian negara hingga ribuan triliun rupiah akibat hilangnya potensi nilai tambah di dalam negeri.
Israel Murka Kena Hukum Inggris, Beri Waktu 30 Hari untuk Angkat Kaki

Guna mengantisipasi hambatan teknologi dan hilirisasi tersebut, BIM mendorong orkestrasi kerja sama yang melibatkan kementerian, lembaga terkait, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, serta pelaku industri pertambangan. Kolaborasi terpadu ini diarahkan untuk mengakselerasi riset ekstraksi mandiri dan pemurnian LTJ di dalam negeri.






