Berawal dari tumpukan limbah kulit jagung di pasar tradisional dan barang pecah belah retak, Zulhaida Sitanggang berhasil membangun unit usaha kerajinan tangan bernama Aida Craft. Usaha yang kini mencatatkan omzet hingga Rp5.000.000 per bulan tersebut beroperasi dengan mempekerjakan dua orang karyawan dan mendapat dukungan pembiayaan dari PNM Mekaar sejak 2024.
Perjalanan usaha Zulhaida bermula ketika pandemi Covid-19 memicu pemotongan upah mengajar, situasi yang memaksanya berhenti dari profesi guru dan mencari nafkah dari rumah. Sebelum beralih ke kriya daur ulang, ia sempat mencoba peruntungan dengan menjual tanaman hias secara daring, namun usaha tersebut berhenti sebelum sempat berkembang.
Peluang baru muncul saat ia memanfaatkan piring dan gelas retak yang dihias menggunakan tali kain bekas. Dua gelas hias perdana buatannya laku terjual seharga Rp100.000 melalui kanal daring, dengan sebagian hasil penjualan disalurkan untuk kegiatan amal. Keberhasilan awal itu mendorong Zulhaida mendalami pembuatan kerajinan secara otodidak melalui tayangan video, termasuk memungut sendiri limbah kulit jagung dari tempat pembuangan di pasar tradisional.
Kualitas produksi Aida Craft kian terasah berkat bimbingan perajin senior yang mengajarkan teknik pengolahan bahan agar tahan lama dan bebas jamur. Zulhaida kemudian memperluas kompetensinya melalui jaringan Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia, mengikuti pembinaan UMKM selama tiga bulan, hingga mengantongi sertifikasi pelatih kerajinan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
MenPAN RB Bakal Temui Menkeu Baru Bahas Gaji PNS Pindah ke Himbara

Peran Pembiayaan dan Pemberdayaan PNM
Ekspansi Aida Craft diperkuat oleh permodalan dari PNM Mekaar yang ia akses pada 2024 atas ajakan tetangga. Dana pembiayaan awal tersebut dialokasikan untuk membeli perlengkapan dasar produksi, seperti wadah pot dan lem perekat.
Selain akses permodalan, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) memberikan pendampingan berkelanjutan melalui program Mba Maya, penguatan relasi usaha lewat program Klasterisasi, dan pembekalan manajerial dalam Mekaarpreneur. Aktivitas usaha ini turut dikonfirmasi oleh Pemimpin Cabang PNM Medan, Muhammad Wazir, serta Direktur Utama PNM, Kindaris.
Atas keahliannya, PNM melibatkan Zulhaida sebagai pemateri pelatihan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) untuk membagikan keterampilannya kepada nasabah lain di berbagai wilayah, mulai dari Johor, Berastagi, hingga Binjai.
34 Tahun Eksis, Ini Jurus Chandra Asri Group Bangun Industri Petrokimia

Meluas ke Pengolahan Limbah Plastik
Jangkauan kerajinan Zulhaida kian meluas saat ia mengadaptasi bahan baku limbah plastik untuk program pemberdayaan di wilayah pesisir yang minim pasokan kulit jagung. Inisiatif tersebut mendapat perhatian Ikatan Pemulung Indonesia dan membuka kesempatan baginya melatih 175 ibu-ibu di Kota Medan, di samping undangan dari Bank Indonesia untuk mempelajari teknik pengolahan limbah secara langsung di Bali.
Saat ini, Zulhaida tengah merancang kelas pelatihan kerajinan di kediamannya. Program kursus tersebut disiapkan secara terbuka bagi masyarakat umum yang ingin belajar, termasuk peserta yang memiliki keterbatasan finansial.






