Pemerintah Nepal mengeluarkan peringatan darurat kepada masyarakat menyusul potensi datangnya banjir susulan di sejumlah wilayah terdampak. Langkah kewaspadaan ini ditingkatkan setelah permukaan air di Sungai Bhotekoshi terpantau naik, memicu kekhawatiran baru di tengah proses evakuasi pascabencana banjir bandang yang melanda Nepal dan Tibet.
Bencana hidrometeorologi dahsyat tersebut telah menelan korban jiwa sedikitnya 750 orang di wilayah Nepal dan Tibet, sementara ribuan warga lainnya masih dinyatakan hilang. Salah satu kawasan dengan tingkat kerusakan paling parah berada di area Kathmandu yang diterjang banjir besar pada Rabu (26/8). Aliran deras yang membawa campuran air, lumpur, bebatuan, dan es menyapu permukiman di pedesaan, memaksa tim penyelamat dari Nepal dan China berjibaku mencari korban yang belum ditemukan.
Operasi pencarian sempat menghadapi ancaman langsung ketika otoritas setempat menginstruksikan seluruh personel penyelamat untuk segera berpindah ke zona aman. Perintah evakuasi ini dikeluarkan menyusul adanya laporan mengenai risiko jebolnya tanggul atau bendungan di sisi wilayah Tibet.
Posting Cara Buat Molotov, Pemilik Akun 'Pemukiman Setan' Ditangkap

Longsoran Gletser dan Dinamika Sungai
Berdasarkan kajian ilmiah, banjir bandang bermula dari runtuhnya lereng gunung dan sebagian badan gletser di puncak Langtang Lirung, kawasan berketinggian sekitar 7.000 meter di perbatasan Nepal-Tibet. Bongkahan es dan material batu yang runtuh menghantam Sungai Lhende Khola, kemudian terakumulasi menjadi gelombang debris masif yang menyapu hilir hingga distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading.
Perhitungan ilmuwan Planetary Science Institute, Jeffrey Kargel, menunjukkan material tersebut melesat sejauh 22 kilometer pertama dengan kecepatan rata-rata mencapai 193 km/jam. Aliran dahsyat itu hanya membutuhkan waktu kurang dari tujuh menit untuk menghantam dasar lembah. Dampaknya, ketinggian permukaan sungai setempat melonjak hingga sembilan meter dalam kurun waktu sekitar 30 menit.
Kawasan di sekitar Sungai Lhende dan Bhote Koshi memiliki kerentanan tinggi terhadap luapan air ekstrem. Pada Juli 2025, banjir di lokasi yang sama pernah menewaskan sembilan orang akibat curah hujan tinggi yang memicu luapan sungai.
Hari Keempat, Kebakaran di TPA Liar Waringinkurung Masih Belum Padam

Pengaruh Pemanasan Regional
Fenomena longsoran es ini berkaitan erat dengan perubahan stabilitas lingkungan di pegunungan Himalaya. Penelitian Bethan Davies, profesor glasiologi di Newcastle University, mencatat kawasan tangkapan air Langtang di atas elevasi 4.000 meter mengalami pemanasan sekitar lima kali lebih cepat daripada rata-rata global sejak dekade 1960-an.
Data dari British Antarctic Survey melalui ilmuwan iklim Ella Gilbert turut menggarisbawahi bahwa laju penyusutan es gletser di Himalaya telah berlipat ganda sejak tahun 2000. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebelumnya juga menegaskan bahwa menyusutnya lapisan es, salju, dan permafrost secara konsisten meningkatkan ketidakstabilan struktur lereng di kawasan pegunungan tinggi dunia, memperbesar risiko bencana geologis serupa di masa depan.






