Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi melantik Henry Rialdi sebagai Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, pada hari Rabu (19/8) bertempat di Jakarta. Langkah pelantikan ini menandai babak baru dalam upaya penguatan sektor perdagangan komoditas di tanah air.
Pengisian jabatan Deputi Komisioner ini merupakan langkah awal yang sangat penting bagi OJK dalam menyiapkan seluruh aturan serta pengawasan bursa mineral dan komoditas strategis di Indonesia. Posisi yang kini dijabat oleh Henry Rialdi tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk menangani fungsi pengaturan dan pengawasan BMKS. Hal ini mencakup berbagai tugas krusial, mulai dari menyiapkan kerangka regulasi hingga membangun ekosistem bursa yang kokoh.
Pemerintah Kucurkan Rp44 M untuk Penanganan Awal Pascagempa NTT

Dalam pelaksanaannya, OJK berkomitmen melakukan persiapan secara menyeluruh sejak awal tahapan perkembangan bursa. Langkah persiapan ini dimulai dari penyusunan Peraturan OJK (POJK), perumusan sistem pengaturan, hingga pelaksanaan fungsi pengawasan BMKS. Adapun fungsi pengawasan tersebut dirancang demi memastikan agar perdagangan mineral dan komoditas strategis di Indonesia dapat berjalan dengan teratur, transparan, dan menjunjung tinggi integritas. Selain itu, aspek pengelolaan risiko serta tata kelola yang baik juga menjadi perhatian utama dalam fungsi pengawasan ini.
Pembentukan BMKS ini juga memiliki nilai strategis dalam menjawab tantangan perdagangan nasional, sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menaruh harapan agar keberadaan bursa ini nantinya mampu menjawab berbagai permasalahan pelik, khususnya yang berkaitan dengan praktik transfer pricing serta under-invoicing yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Senada dengan hal tersebut, Friderica Widyasari Dewi juga menyatakan bahwa kehadiran BMKS memang diharapkan dapat mengatasi persoalan dalam perdagangan komoditas Indonesia, termasuk praktik transfer pricing dan under-invoicing tersebut.
Prospek Ekonomi Global 2026 Melemah, Bank Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan Domestik Tetap Kuat

Selama ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen utama untuk berbagai macam mineral dan komoditas strategis. Meskipun demikian, manfaat ekonomi yang diperoleh dari posisi strategis tersebut dinilai belum optimal karena proses pembentukan harga untuk sejumlah komoditas selama ini belum berlangsung di dalam negeri. Dengan beroperasinya BMKS, diharapkan tata kelola perdagangan komoditas akan semakin kuat dan pembentukan harga komoditas menjadi lebih transparan. Bursa ini juga ditargetkan dapat meningkatkan transparansi perdagangan, memperkuat pembentukan harga di dalam negeri, serta meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineral dan komoditas strategis Indonesia.






