Upaya menggenjot pemanfaatan gas bumi di dalam negeri kini bergeser dari sekadar eksplorasi cadangan menjadi perbaikan rantai pasok dan serapan pasar. Kesenjangan lokasi antara sumber gas dan pusat permintaan, minimnya infrastruktur pipa, struktur harga, hingga ketidakpastian penyerapan masih menjadi batu sandungan yang menentukan keekonomian proyek gas nasional.
Benny Lubiantara menjelaskan bahwa keputusan investasi hulu migas sangat bergantung pada ketersediaan jalur transmisi dan jaminan pasar. Faktor fiskal dinilai tidak lagi berdiri sendiri, melainkan harus dibarengi dengan kemudahan berusaha, kepastian regulasi, serta prospek konsumen yang jelas.
Untuk memangkas waktu komersialisasi dari temuan lapangan baru, pendekatan Infrastructure-Led Exploration mulai didorong. Strategi ini difokuskan pada wilayah yang memiliki potensi cadangan gas namun belum memiliki jaringan penyalur yang memadai, sehingga monetisasi dapat berjalan lebih cepat.
Investor Pasar Modal Tembus 30,3 Juta, Ini Saran untuk Pemula

Keseimbangan antara kepentingan hulu dan hilir juga menjadi sorotan. Kebijakan tata kelola gas domestik dituntut untuk menyediakan harga yang kompetitif bagi industri pengguna akhir tanpa mengorbankan tingkat keekonomian produsen maupun investor hulu migas.
Praktisi migas sekaligus mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menegaskan pentingnya diversifikasi moda distribusi. Kendati jaringan pipa tetap menjadi tulang punggung, opsi lain perlu dipercepat untuk wilayah yang sulit dijangkau.
Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG), mini LNG, LNG skala besar, serta fasilitas regasifikasi dapat menjadi jalan keluar logistik bagi area yang belum memungkinkan dibangun jaringan pipa secara teknis maupun ekonomis. Langkah ini dinilai vital untuk mendukung target pemanfaatan 80 hingga 90 persen potensi gas bumi yang layak secara komersial untuk kebutuhan dalam negeri di masa depan.
Ada DSI, Nilai Ekspor RI Berpotensi Menggemuk hingga Rp 88,5 T

Di sisi lain, perbankan dan lembaga pembiayaan membutuhkan kepastian komersial sebelum mendanai proyek gas. Jaminan pembeli, volume penyerapan yang terikat, formula harga yang jelas, serta komitmen kontrak jangka panjang menjadi syarat mutlak agar ekosistem investasi migas bergerak stabil.
Berbagai isu krusial mengenai kesiapan infrastruktur, rantai niaga, hingga skema harga tersebut akan menjadi agenda utama dalam Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK) 2026. Forum ini dirancang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku hulu migas, penyedia layanan midstream, hingga pengguna akhir guna menyelaraskan kebijakan dan mencari solusi konkret bagi keberlanjutan sektor gas nasional.






