Kematian seekor orang utan Kalimantan bernama Sempurna akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu desakan aksi tanggap darurat. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, meminta pemerintah segera meningkatkan langkah mitigasi menjadi operasi darurat penyelamatan satwa.
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama yayasan terkait telah mengevakuasi dan memberikan upaya pertolongan kepada Sempurna. Johan menilai kematian satwa dilindungi tersebut menjadi peringatan keras bahwa dampak karhutla tidak semata-mata diukur dari luas lahan yang hangus atau sebaran titik panas, melainkan hilangnya habitat, sumber pangan, ruang jelajah, hingga nyawa fauna langka.
Eks Karyawan Tilap Duit Vilmei Rp 600 Juta, Dipakai Beli Kosmetik-Bayar Kos

Menyikapi eskalasi bencana, Kementerian Kehutanan didorong untuk segera memetakan kantong-kantong habitat yang terdampak, mengerahkan tim medis serta penyelamat satwa ke lapangan, dan menyiapkan tempat penampungan evakuasi maupun rehabilitasi yang layak. Pemadaman api di lapangan juga dinilai perlu diprioritaskan pada kawasan-kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa liar.
Satwa yang berhasil melarikan diri dari kepungan api dinilai belum sepenuhnya aman. Ancaman gangguan pernapasan, luka bakar, serta kelaparan dan dehidrasi berisiko mendorong satwa liar masuk ke wilayah perkebunan atau permukiman warga, yang berpotensi memicu konflik baru antara manusia dan satwa.
Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, Muntahkan Lava Fountain dan Dentuman

Terkait aspek hukum, Johan menegaskan investigasi karhutla harus menelusuri dugaan kelalaian pengelolaan kawasan, ketersediaan sarana pemadam, dan perlindungan habitat, bukan hanya mencari pihak yang menyalakan api. Pihak yang terbukti melanggar didorong untuk menanggung biaya pemulihan ekosistem serta penanganan satwa. Selain itu, pemerintah diminta menyajikan pendataan terbuka mengenai total satwa yang terdampak, mati, sakit, dievakuasi, maupun yang kehilangan ruang hidup akibat karhutla.






