Jumlah penduduk lanjut usia berumur 100 tahun ke atas di Jepang mencatatkan rekor baru setelah menembus angka 107.677 jiwa pada September ini. Data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang dirilis pada Selasa (15/9/2026) menandai untuk pertama kalinya populasi centenarian di negara tersebut melampaui ambang 100.000 jiwa.
Pertumbuhan populasi usia satu abad ini terus menunjukkan tren kenaikan selama lima dekade terakhir. Pemerintah Jepang sendiri telah mendokumentasikan statistik kelompok lansia ini secara berkala setiap September sejak 56 tahun lalu guna menyambut peringatan Hari Penghormatan Lansia.
Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno menyambut capaian tersebut secara terbuka. "Saya sangat senang bahwa banyak orang tetap aktif dan sehat dalam jangka waktu yang lama," ujar Ueno dalam keterangannya kepada para jurnalis.
Kala UMKM Lokal dan Disabilitas Kian Berdaya Lewat Bakti BCA

Faktor Penunjang Usia Panjang
Tingginya populasi lansia di Jepang sejalan dengan laporan Bank Dunia pada 2024 yang menempatkan Jepang di peringkat teratas dalam indeks harapan hidup global, dengan rata-rata usia harapan hidup mencapai 84 tahun. Kalangan ilmuwan menilai ketahanan fisik warga didorong oleh kebiasaan pola makan sehat serta dukungan sistem layanan kesehatan yang maju.
Saat ini, Jepang menjadi tempat tinggal bagi sejumlah manusia tertua di dunia. Di antaranya adalah Fuyo Kishimoto dari Kyota yang kini menginjak usia 114 tahun, serta Hikaru Kato asal Kumamoto yang berusia 112 tahun. Kato dilaporkan masih dalam kondisi bugar, menjaga nafsu makan dengan baik, dan aktif berolahraga di fasilitas panti jompo.
Populasi warga berusia 100 tahun diperkirakan bertambah lebih banyak menjelang akhir tahun fiskal 2026, mengingat terdapat 54.294 warga lansia lain yang diproyeksikan segera menyusul ke kelompok usia tersebut.
Houthi Bantah Serang Mekkah Usai Arab Saudi Rilis Peringatan Darurat

Tekanan Demografi dan Isu Ketenagakerjaan
Kendati angka harapan hidup meningkat tajam, dinamika ini berlangsung di tengah penurunan populasi nasional secara keseluruhan. Angka kelahiran di Jepang terus menyusut dari tahun ke tahun, memicu ketimpangan struktur usia penduduk yang berdampak langsung pada sektor ketenagakerjaan.
Untuk menambal kelangkaan tenaga kerja industri, Jepang semakin bergantung pada pekerja migran guna mengisi pos buruh terampil dan pekerja kerah biru. Namun, peningkatan kehadiran pekerja asing ini memicu dinamika sosial baru berupa penguatan sentimen anti-orang asing. Isu ini mulai dimanfaatkan oleh sejumlah politisi lokal untuk menarik dukungan pemilih, yang pada akhirnya memengaruhi diskursus serta arah kebijakan imigrasi negara tersebut.






