Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan susu nasional secara mandiri. Selama ini, sebagian besar susu yang dikonsumsi masyarakat justru berasal dari luar negeri, terutama Australia. Ketergantungan yang tinggi ini tidak lepas dari minimnya kontribusi peternakan sapi perah lokal yang baru sanggup menyuplai sekitar 20 persen dari total kebutuhan domestik. Sementara itu, 80 persen sisanya terpaksa dipenuhi melalui keran impor demi menjaga ketersediaan stok di dalam negeri.
Kondisi ini dipertegas oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofik, saat meninjau Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Kabupaten Bandung Barat pada Jumat, 24 Juli 2026. Ia menyoroti rendahnya produktivitas sapi perah lokal yang rata-rata hanya menghasilkan di bawah 12 liter susu per ekor setiap harinya. Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan peternakan modern di negara-negara maju yang mampu menghasilkan hingga 34 liter susu per ekor per hari. Saat ini, produksi susu nasional pun masih sangat terpusat, dengan Jawa Timur menyumbang 57,9 persen, disusul Jawa Barat sebesar hampir 30 persen, Jawa Tengah sekitar 9 persen, dan wilayah lain hanya menyumbang sekitar 2 persen.
Investor Domestik Topang IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

Rendahnya angka produksi ini bukan tanpa alasan. Faktor geografis dan iklim menjadi tembok penghalang utama bagi para peternak lokal. Sapi perah berkualitas tinggi sejatinya merupakan hewan yang berasal dari wilayah subtropis, seperti Australia. Ketika dibawa ke Indonesia yang beriklim tropis, hewan-hewan ini membutuhkan penyesuaian suhu lingkungan yang signifikan agar bisa berproduksi secara optimal. Akibatnya, sentra peternakan sapi perah di tanah air saat ini masih terbatas di kawasan pegunungan yang memiliki udara lebih sejuk. Selain masalah suhu, keterbatasan lahan untuk menanam pakan berkualitas juga memperparah kondisi ini.
Untuk mengatasi kendala alam tersebut, pemerintah mulai melirik berbagai inovasi teknologi, salah satunya adalah sistem kandang tertutup atau closed barn. Teknologi yang saat ini tengah diuji coba di Jawa Timur ini dirancang untuk merekayasa iklim mikro di dalam kandang secara buatan. Jika penerapan teknologi ini terbukti sukses, peternakan sapi perah tidak lagi harus bergantung pada dataran tinggi atau pegunungan. Pengembangan peternakan sapi perah pun nantinya dapat diperluas hingga ke wilayah dataran rendah, sehingga membuka peluang peningkatan produksi yang lebih merata di berbagai daerah.
Pemerintah Pastikan TNI dan Polri Tidak Memiliki Wewenang Menagih Pajak

Kendati teknologi kandang tertutup menawarkan solusi, peningkatan produksi susu juga sangat bergantung pada jumlah populasi sapi perah itu sendiri. Pemerintah menyadari bahwa mengandalkan siklus reproduksi alami sapi akan memakan waktu yang sangat lama untuk mengejar target swasembada pangan di sektor ini. Oleh karena itu, percepatan penambahan populasi sapi perah memerlukan intervensi langsung dari pemerintah. Melalui berbagai skema pendanaan yang strategis, diharapkan populasi sapi perah dapat ditingkatkan secara cepat demi memangkas ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional.






