Pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor industri manufaktur terus diperluas untuk mendorong dekarbonisasi dan memperkuat daya saing industri hijau. Langkah nyata ini diwujudkan oleh PT Widatra Bhakti, perusahaan farmasi anggota Otsuka Group di Indonesia, yang resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 2,2 MWp di fasilitas produksinya di Pasuruan, Jawa Timur.
Sebagai salah satu produsen larutan parenteral dasar terkemuka di Tanah Air, PT Widatra Bhakti memproyeksikan sistem PLTS Atap 2,2 MWp tersebut mampu memproduksi sekitar 2.990.007 kWh listrik bersih per tahun. Pengoperasian pembangkit surya ini ditargetkan dapat memangkas emisi karbon hingga 2.326 ton CO2 setiap tahunnya, atau setara dengan dampak ekologis dari penanaman sekitar 38.615 pohon per tahun.
Ramalan Shio Tikus dan Kerbau Selasa, 1 September 2026 Navigasi Energi di Awal Bulan

Kemitraan Strategis dan Komitmen Transisi Energi
Dalam merealisasikan instalasi energi surya tersebut, PT Widatra Bhakti bermitra dengan PT Surya Nippon Nusantara (SNN), sebuah entitas kerja sama (joint venture) antara SUN Energy dan Sojitz Corporation. Di bawah kepemimpinan CEO SNN Oky Gunawan, SNN bertindak sebagai pengembang yang memegang tanggung jawab penuh terhadap proses konstruksi, pengoperasian, hingga pemeliharaan sistem PLTS Atap di pabrik farmasi tersebut.
Pengoperasian PLTS Atap ini sejalan dengan peta jalan keberlanjutan perusahaan. Factory Director PT Widatra Bhakti, Betty Zubaida, menegaskan bahwa instalasi pembangkit listrik ramah lingkungan ini menjadi wujud nyata korporasi dalam mencapai visi lingkungan Net Zero pada tahun 2050 mendatang.
Studi Ukuran Lingkar Pinggang Lebih Akurat Deteksi Risiko Kesehatan Dibanding BMI

Sebelum mengoperasikan PLTS Atap berkapasitas 2,2 MWp, PT Widatra Bhakti telah memulai transisi energi hijau dengan membeli Renewable Energy Certificate (REC) yang diterbitkan oleh PT PLN (Persero) pada April 2022. Selain transisi pada pasokan energi pabrik, perusahaan juga membangun budaya ramah lingkungan secara internal melalui pengurangan penggunaan air minum dalam kemasan, pembatasan perlengkapan makan sekali pakai, serta penerapan inisiatif Bring Your Own Tumbler (BYOT).






