Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyiapkan skema produksi massal rumah modular tahan gempa bersama mitra industri. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat mitigasi bencana di daerah rawan, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan arahan tersebut usai mendampingi Presiden menerima kunjungan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan delegasi peraih Nobel di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Prabowo meminta teknologi terapan hasil riset BRIN segera dialihwujudkan ke lapangan secara nyata.
Harta Karun Emas 30.000 Ton di Banten Bikin Heboh, Dirampok Asing

Langkah ini menandai pergeseran dari tahap uji coba ke produksi terdistribusi. Pada 2021–2022, BRIN sempat membangun tiga unit purwarupa rumah modular di NTT yang terbukti tetap utuh tanpa kerusakan saat bencana gempa melanda kawasan tersebut. Namun, ketiadaan wewenang manufaktur mandiri membuat inovasi ini belum bisa diproduksi dalam skala luas oleh pihak BRIN sendiri.
Untuk mengatasi batasan regulasi tersebut, BRIN kini menjajaki kerja sama operasional dengan pelaku industri swasta maupun BUMN. Sinergi ini ditargetkan mampu mencetak hunian tahan gempa dalam volume besar dengan struktur biaya yang jauh lebih terjangkau, menjawab kebutuhan darurat di sepanjang wilayah Cincin Api (Ring of Fire).
Penerbangan di Bandara Soetta Ditutup Sementara, Warga Cari Tiket Kereta-Bus

Selain mendorong hilirisasi rumah modular, pertemuan bilateral di Istana Merdeka tersebut juga dimanfaatkan Prabowo untuk mengajak para penerima Nobel dan akademisi global mempererat kerja sama riset terapan dengan peneliti Indonesia guna memperkokoh ekosistem sains nasional.






