SMK Negeri 2 Garut berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan merebut juara pertama dalam Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) MPR RI Tingkat Nasional Tahun 2026. Capaian di tingkat nasional tersebut menjadi gelar perdana yang dibukukan oleh sekolah perwakilan Provinsi Jawa Barat itu di ajang LKBB-PB.
Pengumuman pemenang disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Juri yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Widi Keswianto, setelah melalui proses seleksi dan penilaian terhadap 30 sekolah dari 30 provinsi se-Indonesia di Jakarta.
Kompetisi bergengsi antarpelajar ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan MPR RI, termasuk Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, serta anggota MPR RI T. A. Khalid. Penilaian seluruh peserta dilakukan oleh dewan juri lintas instansi yang terdiri atas unsur TNI (Mayor Krisman Syahputra), unsur Polri (Aiptu Agus Haryadi), serta perwakilan PPI (Bondan Setio Darmawan, Doni Rampansyah, Fhaiz Alifa, dan Arya Pratama).
Penerbangan di Bandara Soetta Ditutup Sementara, Warga Cari Tiket Kereta-Bus

Tampil dengan nomor urut 24, tim paskibra SMK Negeri 2 Garut berhasil mengungguli puluhan perwakilan sekolah lain dari berbagai provinsi. Posisi juara kedua diraih oleh SMA Negeri 1 Kendari asal Sulawesi Tenggara, disusul SMA Negeri 1 Pangkalan Bun dari Kalimantan Tengah di posisi ketiga. Sementara itu, gelar juara harapan 1 diberikan kepada SMA Negeri 1 Gianyar (Bali), juara harapan 2 disabet SMA Negeri 99 Jakarta (DKI Jakarta), dan juara harapan 3 diraih SMA Negeri 3 Langsa (Aceh).
Komandan Pleton SMK Negeri 2 Garut, Rival Kartono, mengungkapkan bahwa keberhasilan timnya tidak lepas dari persiapan intensif dan kemandirian dalam menggali teknik baris-berbaris. Selain berkonsultasi langsung dengan para senior Purna Paskibraka Indonesia, timnya banyak mempelajari variasi gerakan dari tayangan video di platform YouTube.
Gunung Anak Krakatau Erupsi Level III Siaga, Kapal Dilarang Mendekat Radius 3 Km

Perjalanan menuju tangga juara juga diwarnai tantangan teknis. Menjelang hari perlombaan, tim harus menjalani latihan intensif tanpa hari libur selama satu bulan penuh, termasuk di akhir pekan. Selain itu, mereka harus cepat beradaptasi dengan perubahan spesifikasi teknis tiang bendera yang sempat berganti dari tinggi 10 meter menjadi 17 meter sebelum kompetisi berlangsung.






