Bekas panglima militer Serbia Bosnia, Ratko Mladic, meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Den Haag, Belanda, pada Kamis (27/8) waktu setempat. Kabar meninggalnya terpidana kasus genosida tersebut dikonfirmasi oleh pengadilan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mladic mengembuskan napas terakhir saat menjalani hukuman penjara seumur hidup. Pria yang dijuluki "Jagal Bosnia" ini diketahui mengalami beberapa kali serangan stroke dalam beberapa bulan terakhir. Pengadilan di Den Haag sebelumnya telah menolak permohonan keluarga dan pejabat Serbia yang meminta pembebasannya atas dasar kondisi kesehatan yang memburuk.
Catatan mengenai usia Mladic sempat memicu perbedaan. Pengadilan mencatat kelahirannya pada tahun 1942, sementara Mladic sendiri mengklaim lahir pada Maret 1943. Sejumlah media lokal Serbia melaporkan ia wafat pada usia 84 tahun.
Anak Mantan Presiden Ditangkap, Terseret Kasus Korupsi Pembelian Pesawat Airbus

Mladic merupakan figur militer kunci dalam Perang Bosnia (1992–1995), bersama mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic di ranah politik. Perang tersebut merenggut sekitar 100 ribu korban jiwa dan menyebabkan 2,2 juta orang mengungsi. Mladic dinyatakan bersalah atas genosida, kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, serta kampanye pembersihan etnis warga Muslim dan Bosniak demi mendirikan wilayah "Serbia Raya".
Salah satu kejahatan terbesarnya terjadi pada 1995 di Srebrenica, kawasan yang semestinya menjadi zona aman di bawah perlindungan PBB. Pasukan di bawah komandonya mengeksekusi sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia. Jenazah para korban dibuang ke kuburan massal, bahkan sebagian sempat digali kembali dan dipindahkan untuk menghilangkan jejak pembantaian.
Polisi Tetapkan 1 Tersangka Ledakan Pipa Gas Grand Polonia Medan, 3 Orang Tewas

Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) mendakwa Mladic sejak November 1995. Ia sempat buron dan menghindari penangkapan selama 16 tahun sebelum akhirnya diringkus pada Mei 2011 dan dibawa ke Den Haag. Pengadilan menjatuhkan vonis bersalah pada 2017, dan hukuman penjara seumur hidup tersebut dikuatkan pada tingkat banding pada 2021.
Kabar wafatnya Mladic memicu beragam reaksi. Perwakilan asosiasi Mothers of Srebrenica, Sehida Abdurahmanovic, menegaskan bahwa kematian sang jenderal tidak akan pernah menghapus kejahatan genosida yang melekat pada namanya. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan belasungkawa serta solidaritas penuh kepada para korban, penyintas, dan keluarga yang terdampak atas seluruh kejahatan Mladic.






