Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal perdagangan hari Rabu, 12 Agustus 2026. Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan hari tersebut, mata uang rupiah tercatat bergerak mengalami penurunan sebesar 8 poin atau sekitar 0,04 persen, sehingga nilainya berada pada posisi Rp 17.869 per dolar AS. Angka pembukaan ini mencerminkan adanya pelemahan jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, di mana rupiah saat itu berada pada level Rp 17.861 per dolar AS.
Menanggapi kondisi pergerakan mata uang tersebut, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan proyeksi bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak secara konsolidatif. Ia menilai bahwa dinamika pergerakan nilai tukar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, yang mana kondisi di kawasan tersebut masih terus memberikan sinyal yang beragam bagi para pelaku pasar. Dalam perhitungan pergerakannya, rupiah diprediksi akan bergerak berada pada kisaran antara Rp 17.750 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Dinamika geopolitik Timur Tengah ini salah satunya berkaitan erat dengan perkembangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Mengutip laporan dari Anadolu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan bahwa pihak Iran dan Amerika Serikat sebenarnya sudah hampir mencapai kesepakatan. Kendati demikian, kedua belah pihak dilaporkan tetap bersikap keras dalam menghadapi kebuntuan panjang yang masih berlangsung di kawasan Selat Hormuz. Situasi kebuntuan tersebut sampai saat ini terus memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan ekonomi dan aktivitas perdagangan secara global.
Harga Minyak Dunia Menguat Imbas Ketegangan Selat Hormuz dan Antisipasi Data Inflasi AS

Dalam upaya untuk mengatasi permasalahan kebuntuan di jalur strategis tersebut, pihak Pakistan berusaha mengambil peran. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi berencana untuk menyampaikan sejumlah usulan baru kepada para pemimpin Iran demi mencari solusi atas kebuntuan yang terjadi di Selat Hormuz. Namun demikian, pihak Iran tetap pada pendiriannya dan menguatkan penegasan bahwa kawasan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan yang mereka tentukan dapat terpenuhi secara keseluruhan.
Di luar faktor geopolitik, para investor di pasar keuangan juga dipengaruhi oleh proyeksi indikator makroekonomi internasional. Pelaku pasar dan investor disebut cenderung memilih untuk mengambil sikap menanti atau wait and see menjelang pengumuman rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan dikeluarkan pada malam hari. Berdasarkan proyeksi yang ada, inflasi utama AS secara tahunan (year on year) diperkirakan bakal mengalami penurunan dari angka 2,6 persen menjadi 2,5 persen. Selain itu, inflasi inti secara tahunan juga diprediksi akan melandai turun dari level 3,5 persen menjadi 3,4 persen.
Harga Emas Antam Anjlok Rp30 Ribu Jadi Rp2,68 Juta per Gram

Dari sudut pandang sentimen domestik Indonesia, perhatian para pelaku pasar saat ini tengah mengarah pada perkembangan pasar modal. Investor dinyatakan sedang mengantisipasi pengumuman resmi yang akan dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di tengah penantian pengumuman tersebut, salah satu ekspektasi yang disampaikan terkait hasil pengumuman MSCI tersebut adalah perkiraan bahwa tidak akan ada saham baru yang akan dimasukkan ke dalam daftar indeks tersebut.






