Ketegangan geopolitik yang kembali membara di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari Rabu, 12 Agustus 2026. Konflik yang kian memanas di jalur pelayaran vital beradu dengan kecemasan pelaku pasar yang kini tengah bersiaga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Perpaduan sentimen geopolitik dan makroekonomi ini membuat pergerakan harga komoditas energi tersebut kian volatil.
Berdasarkan data dari Refinitiv hingga pukul 09.25 WIB, harga minyak mentah Brent terpantau berada di level US$89,48 per barel, mengalami kenaikan sebesar 0,64 persen dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya. Tren serupa juga diikuti oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan pada level US$83,81 per barel, atau menguat 0,73 persen. Kenaikan hari Rabu ini memperpanjang reli yang sudah terjadi sejak awal pekan, di mana kedua kontrak minyak tersebut sempat melonjak sekitar 5 persen. Jika ditarik lebih jauh sejak penutupan perdagangan pada 5 Agustus lalu, harga Brent telah melesat sekitar 12,6 persen, sementara WTI mencatatkan penguatan lebih dari 11 persen. Pada hari Selasa sebelumnya, Brent ditutup menguat 1,4 persen ke US$88,91 per barel, dan WTI naik 1,3 persen ke posisi US$83,20 per barel.
Eskalasi konflik di jalur laut utama menjadi motor utama lonjakan harga ini. Di Selat Bab el-Mandeb, pemerintah Yaman melaporkan adanya serangan yang diduga kuat dilancarkan oleh kelompok Houthi terhadap sebuah kapal kargo, yang mengakibatkan empat orang awak kapal tewas. Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengklaim telah menyerang sebuah kapal kontainer yang berlayar menuju pelabuhan di Iran setelah kapal tersebut mengabaikan serangkaian peringatan yang diberikan.
Pemerintah Siapkan BUMN Tekstil Baru di Tengah Isu Restrukturisasi Utang dan Status Pailit PT Sritex

Ketegangan semakin meruncing setelah pihak Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Teheran menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat jika ingin jalur tersebut dibuka kembali, di antaranya adalah pencairan aset-aset Iran yang saat ini dibekukan serta penghentian konflik bersenjata di kawasan tersebut. Blokade ini menjadi pukulan telak bagi pasokan energi global. Sebagai catatan, sebelum konflik berskala besar ini pecah pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima dari total arus perdagangan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) di seluruh dunia bergantung pada akses melewati Selat Hormuz.
Di tengah ancaman tersendatnya pasokan minyak, perhatian pelaku pasar global tidak terlepas dari kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat. Pasar saat ini sedang dalam posisi bersiaga penuh mengantisipasi rilis data inflasi terbaru dari Washington. Menurut konsensus yang dihimpun oleh Reuters, inflasi bulanan AS diperkirakan akan naik sebesar 0,1 persen, setelah sempat mengalami penurunan sebesar 0,4 persen pada bulan Juni. Sementara itu, inflasi tahunan AS diproyeksikan melambat menjadi 3,4 persen dari angka sebelumnya yang berada di level 3,5 persen.
Pemerintah Jaga Harga Pakan Ayam hingga 2026, Telur Peternak Wajib Diserap Dapur MBG

Data inflasi ini menjadi sangat krusial karena akan memengaruhi langkah kebijakan moneter bank sentral AS. Saat ini, pelaku pasar di pasar uang memperkirakan probabilitas atau peluang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan depan berada di kisaran 50 persen. Dengan ketidakpastian yang tinggi baik dari sisi geopolitik di Timur Tengah maupun arah kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak ke depan masih diliputi ketidakpastian yang tinggi.






