Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menunjukkan dinamika baru. Tim Tanggap Darurat Gunung Anak Krakatau mencatat sembilan kali gempa vulkanik dalam yang terekam selama kurun waktu hampir tiga jam, tepatnya dari pukul 12.00 hingga 14.42 WIB siang tadi.
Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Anak Krakatau, M Nugraha Kartadinata, menyampaikan bahwa selain sembilan gempa vulkanik dalam, peralatan seismik juga mencatat tujuh kali gempa vulkanik dangkal dan tujuh kali gempa hybrid pada rentang waktu yang sama. Rangkaian kegempaan ini terjadi di tengah tren erupsi yang sebenarnya mulai melandai.
Menurut Nugraha, keberadaan gempa vulkanik dalam mengindikasikan bahwa suplai magma menuju dapur magma masih terus berlangsung dan dilepaskan ke atas. Kendati demikian, intensitas aliran magma saat ini dipastikan tidak setinggi kondisi dua hari yang lalu.
Api Belum Padam, Kebakaran Lahan di Bogor Merembet ke TPA Galuga

Erupsi Gunung Anak Krakatau terakhir kali tercatat pada Minggu (6/9) sekitar pukul 20.23 WIB. Letusan tersebut berlangsung dengan skala yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan fase erupsi sebelumnya yang sempat mengeluarkan semburan lava pijar secara terus-menerus (lava fountain).
Mengenai sebaran abu vulkanik yang tidak merata di area sekitar, Nugraha menjelaskan bahwa dinamika arah dan kecepatan angin yang berbeda-beda di setiap lapisan ketinggian atmosfer menjadi penyebab utama partikel abu tersebar secara acak.
Pramono Segera Putuskan Tarif Baru Masuk Ragunan

Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan mengingat partikel abu vulkanik yang jatuh berukuran sangat halus dan tajam menyerupai pecahan kaca. Masyarakat maupun wisatawan juga diwajibkan mematuhi zona bahaya dan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.






