Memasuki hari ke-24 pascagempa awal pada 15 Agustus 2026, aktivitas seismik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan penurunan yang signifikan. Penurunan frekuensi gempa susulan ini berdampak langsung pada kepulangan warga dari pos penampungan ke tempat tinggal mereka.
Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi gempa Flores turun drastis jadi 72.864 jiwa. Angka tersebut menyusut jauh dibandingkan puncak jumlah pengungsian yang sebelumnya sempat menyentuh 179.037 jiwa saat Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung wilayah terdampak.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa tren kepulangan ini didorong oleh warga yang kediamannya hanya mengalami kerusakan ringan dan sedang. Hingga kini, tercatat total 13.156 kali gempa. Kendati demikian, pada pekan keempat intensitasnya mereda tajam menjadi 364 kali kejadian dan tidak dirasakan signifikan oleh masyarakat. BNPB memproyeksikan aktivitas kegempaan akan stabil sepenuhnya dalam kurun waktu satu bulan ke depan.
Polisi Usut Kasus Pemerkosaan Gadis 15 Tahun Pengungsi Gempa NTT

Secara keseluruhan, dampak bencana mencatat 48 orang meninggal dunia secara langsung akibat gempa, sementara 87 korban jiwa lainnya meninggal secara tidak langsung akibat faktor perawatan, komplikasi penyakit bawaan, maupun kematian alami.
Pemulihan Layanan dan Tahap Rekonstruksi
Kondisi infrastruktur dan fasilitas dasar di sebagian besar wilayah Flores berangsur normal. Pasokan listrik, jaringan komunikasi, bahan bakar minyak (BBM), air bersih, serta jalur transportasi telah kembali beroperasi. Kapal rumah sakit milik TNI AL juga telah bertolak kembali ke pangkalan karena kapasitas fasilitas kesehatan setempat di darat dinilai telah mandiri menangani pasien.
Dalam hal bantuan kemanusiaan, sebanyak 2.142 ton logistik telah tersalurkan melalui pintu masuk Labuan Bajo dan Maumere. Seiring berjalannya distribusi terpusat di daerah, posko logistik nasional di Halim resmi ditutup dan operasionalnya dialihkan ke gudang BNPB di Jatiasih.
Mendagri Kirim Tim Bantu Kependudukan Korban Gempa NTT, 11 Ribu Dokumen Terbit

Terkait pemukiman, BNPB mencatat verifikasi telah mencakup 46.117 unit rumah dari total 102.384 unit yang dilaporkan mengalami kerusakan. Bagi pemilik rumah dengan kategori rusak berat, pemerintah menyediakan hunian sementara (huntara) berbahan GRC, termasuk penyesuaian berbasis kearifan lokal di Kabupaten Ngada.
Saat ini Pemerintah Provinsi NTT tengah memfinalisasi koordinasi untuk mengakhiri status tanggap darurat guna memulai fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Sementara itu, pusat informasi penanganan bencana telah dialihkan ke Jakarta dengan jadwal pembaruan berkala sekurang-kurangnya dua kali dalam sepekan.






