Sebanyak 24 kabupaten dan kota di Jawa Timur resmi menetapkan status darurat kekeringan, mencakup status siaga darurat maupun tanggap darurat bencana. Dari puluhan daerah yang terdampak musim kemarau tersebut, 20 kabupaten di antaranya telah mulai menyalurkan bantuan air bersih secara berkala ke wilayah yang mengalami krisis.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, enam wilayah telah menetapkan status tanggap darurat, yakni Kabupaten Lumajang, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Situbondo, dan Sumenep.
Sementara itu, 18 daerah lainnya berstatus siaga darurat. Wilayah tersebut meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Trenggalek, Gresik, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Kota Batu, Jombang, Bojonegoro, Pamekasan, dan Probolinggo.
Kejagung Siapkan Tiga Instrumen Hukum Tangani Kebakaran Hutan

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mencatat bahwa dampak kekeringan paling parah terkonsentrasi di Pulau Madura, khususnya di Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan. Penanganan difokuskan ke wilayah tersebut melalui pengiriman bantuan darurat logistik air.
Bantuan yang telah dikerahkan ke tiga kabupaten di Madura tersebut mencakup distribusi 5.410 rit pasokan air bersih, sekitar 1.400 unit tandon air, serta penyediaan tandon lipat dan terpal untuk penampungan warga.
Mendes Ungkap Ada Desa Tak Punya Tanah Kuburan, Warga Sampai Ditangkap

Selain distribusi logistik darat, BPBD Jatim mengandalkan skema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kekeringan dan membasahi area hutan serta pegunungan yang rawan kebakaran lahan. Pelaksanaan modifikasi cuaca ini sangat bergantung pada ketersediaan potensi awan hujan dan terus dikoordinasikan secara intensif bersama BMKG guna memantau pergerakan awan dan arah angin.






