Aktivitas belajar mengajar di SMKS Karya Murni, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali bergulir secara terbatas pada Senin (31/8/2026). Pembukaan kembali sekolah ini berlangsung setelah dua pekan terhenti akibat rentetan guncangan pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda kawasan Flores.
Siswa mulai berdatangan ke sekolah sejak pagi hari, salah satunya Maria Alvinda Kartini (16) yang tiba pukul 06.20 WITA. Selama masa tanggap darurat dan pemadaman listrik, Vinda terpaksa belajar dan mengerjakan tugas di dalam tenda pengungsian hanya dengan bantuan lampu pelita atau senter. Kondisi serupa dialami murid lain seperti Helena Ananda Daun, yang keluarganya harus tidur di bawah terpal darurat lantaran dinding belakang rumahnya mengalami retak parah.
Guru PPPK Bisa Jadi CPNS Mulai 2027, Ini Mekanismenya

Kepala SMKS Karya Murni, Ignasius Trimance, menjelaskan bahwa pihaknya mengambil kebijakan membuka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara terbatas pada 31 Agustus demi faktor keamanan, meski sebelumnya ada imbauan untuk aktif sejak 28 Agustus. Jam pelajaran dipangkas dari durasi normal delapan jam (07.00–13.00 WITA) menjadi lima jam sehingga selesai pukul 11.00 WITA, merujuk pada Instruksi Gubernur seiring perpanjangan status tanggap darurat oleh Pemerintah Provinsi NTT.
Untuk menghindari risiko dari sejumlah gedung permanen yang mengalami retak struktur dan plafon runtuh, pihak sekolah mengalihkan aktivitas belajar ke ruang kelas darurat berbahan kayu. Berdasarkan pendataan internal sekolah, tercatat 27 siswa dan 2 guru mengalami kerusakan berat pada rumah tinggal mereka akibat gempa.
Gempa Rusak Sekolah, 618 Siswa SMPN 1 Maumere Direlokasi

Guru otomotif Rofinus Tetu mengungkapkan bahwa kehadiran siswa pada hari pertama pembukaan kembali mencapai lebih dari 50 persen dengan antusiasme tinggi. Keputusan beraktivitas kembali ini didorong oleh laporan BMKG yang menunjukkan penurunan intensitas gempa susulan. Di dalam kelas, para pendidik seperti guru kelistrikan Rober Jelalut turut menyisipkan materi mitigasi bencana serta edukasi pencegahan penyakit di lingkungan pengungsian guna menjaga kesiapan fisik dan mental para siswa.






