Pengembangan moda transportasi udara ramah lingkungan di Indonesia memasuki babak baru dengan hadirnya helikopter bertenaga listrik buatan dalam negeri. Sebanyak 50 unit pesawat electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) Vela kini disiapkan untuk menjalani tahapan pengujian serta penyempurnaan teknis hingga tahun depan. Rencana ini menandai langkah awal dalam membangun ekosistem Advanced Air Mobility (AAM) di tanah air.
Apa sebenarnya proyek 50 helikopter listrik eVTOL Vela dan siapa pihak yang mengembangkannya? Proyek ini dijalankan melalui kolaborasi antara Whitesky Group dan PT Vela Prima Nusantara. Founder Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menyatakan bahwa pengadaan dan pengembangan 50 unit eVTOL Vela menjadi tonggak penting dalam perintisan ekosistem transportasi udara modern di Indonesia. Seluruh unit tersebut dijadwalkan menjalani proses sandbox trial dan uji coba bersama pihak Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPU) Kementerian Perhubungan.
Di mana fasilitas produksinya berada dan sejauh mana keterlibatan tenaga kerja lokal? Direktur PT Vela Prima Nusantara, Kevin Phang, menerangkan bahwa pembuatan unit eVTOL Vela dipusatkan di fasilitas perusahaan yang berada di Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Terkait material pesawat, komponen utama memang masih didatangkan melalui impor dari luar negeri. Kendati demikian, seluruh tahapan manufaktur, proses produksi, serta perakitan akhir ditangani secara langsung di dalam negeri oleh tenaga kerja anak bangsa.
KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Dugaan Korupsi Rektor Unsoed ke Arah TPPU

Berapa unit prototipe yang disiapkan dan kapan tahapan sertifikasi dimulai? Saat ini, satu unit prototipe telah selesai dibangun dan dijadwalkan masuk ke proses sertifikasi kelaikudaraan bersama DKPU Kementerian Perhubungan pada tahun depan. Secara keseluruhan, PT Vela Prima Nusantara menargetkan pengajuan tiga prototipe untuk uji sertifikasi, yang terdiri dari dua unit prototipe eVTOL dan satu unit prototipe bertenaga hybrid VTOL.
Bagaimana kesiapan regulasi penerbangan dan aspek keamanan operasionalnya? Kementerian Perhubungan telah mengesahkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 22 pada tahun 2023 sebagai dasar standar kelaikudaraan. Kemenhub juga sedang memproses revisi CASR Part 61 terkait lisensi penerbang, termasuk aturan Remote Pilot License (RPL) yang pembahasannya telah mencapai Biro Hukum. Penggunaan ruang udara mengacu pada PM 37 Tahun 2020, sementara perlindungan keamanan siber operasional nantinya dikoordinasikan bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Cek Citra Satelit Kebakaran Hutan di Kalimantan dari Web NASA

Apa target jangka panjang pengembangan ekosistem AAM di Indonesia? Whitesky Group menargetkan pengadaan 200 unit eVTOL dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Proyek ini memadukan 50 unit hasil perakitan di Indonesia, 120 unit dari China, serta 30 unit dari Jepang. Dari peta jalan pengembangan mobilitas udara canggih tersebut, Whitesky memproyeksikan potensi valuasi pasar ekosistem AAM bisa mencapai US$ 1,2 miliar pada tahun 2036 mendatang.






