Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) H. Syamsir Siregar meninggal dunia pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kabar duka mengenai berpulangnya purnawirawan jenderal di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini dikonfirmasi oleh emiten PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, tempat almarhum menjabat sebagai Komisaris Utama.
Sekretaris Perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Maya Pradjono menyampaikan kabar tersebut melalui keterangan tertulis perseroan. Almarhum diketahui telah menduduki posisi komisaris utama di perusahaan milik keluarga Santosa tersebut sejak 2010.
Perjalanan Karier Militer dan Intelijen
Syamsir Siregar lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada 23 Oktober 1941. Perjalanan militernya dimulai setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1965, yang membawanya bertugas di kesatuan Infanteri-Kostrad. Kariernya terus berlanjut dari posisi komandan brigade hingga menjabat panglima kodam sepanjang dekade 1970-an hingga 1990-an.
Temui Korban Gempa NTT, Prabowo Belasungkawa bagi yang Kehilangan Keluarga

Kiprah Syamsir di bidang intelijen kian matang ketika ia ditunjuk memimpin Badan Intelijen ABRI (BIA) pada 1994 sampai 1996, institusi yang menjadi cikal bakal BAIS TNI.
Menjabat Kepala BIN di Era Presiden SBY
Pada 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Syamsir sebagai Kepala BIN menggantikan AM Hendropriyono. Masa kepemimpinannya di BIN berlangsung selama satu periode penuh, yakni dari 2004 hingga 2009.
KRL Rangkasbitung Terlambat akibat Kebakaran Lahan Dekat Jalur Daru-Tigaraksa

Pelantikan Syamsir saat itu bertepatan dengan sorotan publik terhadap pengusutan pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Meskipun peristiwa tersebut terjadi sebelum masa jabatannya, Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk pemerintah pada awal 2005 mengindikasikan adanya keterkaitan figur internal lembaga intelijen, termasuk mantan Deputi V BIN tahun 2004, Muchdi Purwopranjono.
Masa dinas Syamsir sebagai Kepala BIN rampung seiring selesainya periode pertama pemerintahan Presiden SBY pada 2009. Estafet kepemimpinan lembaga intelijen negara tersebut selanjutnya diserahkan kepada mantan Kapolri Sutanto.






