Fiksi pahlawan super sering kali menjadi cerminan bagaimana masyarakat memandang gender dan emosi. Perjalanan karakter Wanda Maximoff, atau Scarlet Witch, di jagat sinematik Marvel (MCU) memberikan gambaran nyata mengenai hal ini. Ketika kehilangan Vision, duka mendalam mendorongnya menciptakan realitas semu di kota Westview. Alih-alih mendapatkan empati layaknya seseorang yang tengah terguncang akibat trauma, tindakan tersebut langsung dicap sebagai ancaman mematikan. Karakter yang awalnya diperkenalkan sebagai pahlawan terkuat ini perlahan digeser posisinya menjadi sosok penjahat menakutkan, sebuah transformasi yang memicu pertanyaan besar tentang bagaimana dunia merespons kesedihan seorang perempuan.
Ketimpangan perlakuan ini menjadi sangat jelas apabila nasib Wanda disandingkan dengan karakter pahlawan laki-laki di semesta yang sama. Tony Stark, misalnya, pernah membiarkan rasa takut dan traumanya memicu penciptaan Ultron yang nyaris menghancurkan dunia. Namun, publik tetap memandangnya sebagai sosok genius yang berniat baik meski melakukan kekhilafan. Di sisi lain, ketika Thor mengalami depresi berat dan mengurung diri akibat kegagalannya menyelamatkan dunia, rasa sakitnya justru disambut dengan simpati serta balutan lelucon hangat. Karakter laki-laki yang berduka senantiasa diberikan ruang pemakluman dan kesempatan menebus kesalahan, sementara duka perempuan dengan cepat dilabeli sebagai kejahatan egois.








