Fiksi pahlawan super sering kali menjadi cerminan bagaimana masyarakat memandang gender dan emosi. Perjalanan karakter Wanda Maximoff, atau Scarlet Witch, di jagat sinematik Marvel (MCU) memberikan gambaran nyata mengenai hal ini. Ketika kehilangan Vision, duka mendalam mendorongnya menciptakan realitas semu di kota Westview. Alih-alih mendapatkan empati layaknya seseorang yang tengah terguncang akibat trauma, tindakan tersebut langsung dicap sebagai ancaman mematikan. Karakter yang awalnya diperkenalkan sebagai pahlawan terkuat ini perlahan digeser posisinya menjadi sosok penjahat menakutkan, sebuah transformasi yang memicu pertanyaan besar tentang bagaimana dunia merespons kesedihan seorang perempuan.
Ketimpangan perlakuan ini menjadi sangat jelas apabila nasib Wanda disandingkan dengan karakter pahlawan laki-laki di semesta yang sama. Tony Stark, misalnya, pernah membiarkan rasa takut dan traumanya memicu penciptaan Ultron yang nyaris menghancurkan dunia. Namun, publik tetap memandangnya sebagai sosok genius yang berniat baik meski melakukan kekhilafan. Di sisi lain, ketika Thor mengalami depresi berat dan mengurung diri akibat kegagalannya menyelamatkan dunia, rasa sakitnya justru disambut dengan simpati serta balutan lelucon hangat. Karakter laki-laki yang berduka senantiasa diberikan ruang pemakluman dan kesempatan menebus kesalahan, sementara duka perempuan dengan cepat dilabeli sebagai kejahatan egois.
Dalam kacamata sosiologi dan studi gender, fenomena peminggiran ini bukanlah hal baru. Terdapat sebuah stereotip sejarah panjang yang dikenal dengan istilah "madwoman in the attic". Konsep ini menjelaskan bagaimana perempuan yang memiliki kekuatan besar, emosi meluap, atau menolak untuk tunduk, akan diasingkan dan dianggap mengalami gangguan jiwa. Label histeria dengan mudah disematkan kepada mereka. Emosi yang seharusnya dipahami sebagai proses alamiah menghadapi rasa kehilangan justru dinilai sebagai bom waktu yang harus segera dijinakkan.
Pengeroyokan Bambang Setiyawan, 3 Tersangka Ditangkap, Ini Motifnya

Hal yang paling ironis dari tragedi ini terletak pada bentuk pelampiasan emosi sang karakter itu sendiri. Sebagai entitas terkuat di alam semesta MCU, ambisi Wanda bukanlah dominasi global atau kekuasaan mutlak. Impian tertingginya sekadar kehidupan rumah tangga pinggiran kota yang damai bersama suami dan anak-anak, layaknya adegan dalam komedi situasi televisi klasik. Fakta ini memperlihatkan bagaimana tatanan sosial seolah mendikte bahwa pencapaian tertinggi seorang perempuan tetaplah peran domestik sebagai ibu dan istri. Ironisnya, ketika impian sederhana tersebut hancur, ia langsung dianggap kehilangan akal sehat.
Narasi ini semakin tajam ketika menyentuh isu naluri keibuan. Kerinduan mendalam sang penyihir untuk memeluk dan melindungi anak-anaknya tidak dibingkai sebagai kasih sayang manusiawi, melainkan diubah menjadi obsesi gelap yang membutakan. Masyarakat kerap memuja naluri keibuan selama hal itu berada dalam batas kepatuhan. Begitu kerinduan itu berubah menjadi amarah yang menuntut keadilan, ia dicap sebagai ancaman. Situasi ini diperburuk oleh respons lembaga otoritas seperti S.W.O.R.D. Alih-alih menawarkan terapi, ruang aman, atau pendekatan psikologis, mereka merespons krisis mental tersebut dengan militerisasi dan kekerasan.
Gubernur Bobby Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Siswa Korban MBG di Karo

Pendekatan represif tersebut sangat relevan dengan realitas sosial saat ini, terutama ketika perempuan menghadapi depresi pascalahir atau trauma hebat. Lingkungan sekitar sering kali lebih memilih untuk menghakimi, mengisolasi, dan memaksa mereka cepat sembuh demi kenyamanan pihak lain, daripada memberikan pelukan empati. Ketiadaan sistem pendukung yang peka terhadap gender inilah yang terus mendorong perempuan ke sudut kegelapan. Selama masyarakat masih menuntut perempuan untuk selalu tenang dan melihat emosi mereka sebagai histeria, rasa sakit yang dibungkam itu pada akhirnya akan meledak dan meruntuhkan aturan-aturan yang tidak adil.






