Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia memerlukan strategi terpadu yang memadukan respons cepat, pemantauan wilayah, serta kesiapan armada darat dan udara. Tantangan geografis di sejumlah daerah kerap menyulitkan proses pemadaman langsung melalui jalur darat, sehingga diperlukan kesiapan teknologi dan pengerahan personel yang terlatih.
Karobinops Stamaops Polri Brigjen Pol Auliansyah Lubis menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi menyeluruh guna menanggulangi karhutla di berbagai daerah di Indonesia. Keterangan pers tersebut disampaikan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, pada Minggu (23/8).
Mekanisme Respons Cepat Penanganan Titik Panas
Untuk memastikan penanganan karhutla berjalan efektif dan tepat sasaran, Polri menerapkan alur respons cepat yang terstruktur sejak indikasi awal kebakaran ditemukan:
Gubernur NTB Soal Restorasi Desa Adat Sade, Prosesnya Akan Sangat Mahal

- Pemantauan Titik Panas: Polri mendeteksi keberadaan titik panas (hotspot) melalui pemantauan citra satelit serta laporan langsung dari masyarakat.
- Verifikasi Lapangan: Setelah titik panas terdeteksi, personel kepolisian segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan verifikasi guna memastikan apakah titik tersebut benar merupakan kobaran api.
- Penggiatan Patroli Terpadu: Polda jajaran gencar melakukan patroli darat dan udara secara berkala untuk memantau kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan. Patroli udara dilaksanakan dengan memanfaatkan helikopter serta perangkat drone.
Operasi Pemadaman Udara: Helikopter dan Modifikasi Drone
Untuk menjangkau titik api di wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat, Polri menyiapkan sarana intervensi udara khusus:
- Operasi Water Bombing: Polri menyiagakan dua unit helikopter yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk melaksanakan operasi pengeboman air (water bombing) langsung di atas titik kebakaran yang terisolasi.
- Drone Fire Suspension: Polri memanfaatkan modifikasi drone fire suspension. Perangkat drone ini mampu terbang membawa delapan bola pemadam kebakaran (fire extinguisher balls) untuk ditembakkan secara langsung dan terarah ke titik api.
Kesiapan Armada Darat dan Peralatan Operasional
Selain sarana operasi udara, penanganan di darat diperkuat dengan beragam peralatan pendukung guna mengoptimalkan pemadaman api hingga ke pelosok:
Polri Bakal Kejar Pihak dan Korporasi Penerima Keuntungan Karhutla di Kalimantan dan Sumatera

- Kendaraan Taktis SAR Karhutla: Polri menyiapkan kendaraan taktis SAR Karhutla yang memiliki kapasitas daya tampung 2.500 liter air dan 250 liter foam (busa pemadam).
- Pompa Air Portabel: Tersedia ratusan unit pompa air portabel yang disiapkan secara khusus untuk menjangkau lokasi-lokasi kebakaran yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat maupun roda dua.
- Alat Keselamatan Personel: Seluruh personel yang bertugas dibekali perlengkapan pendukung operasional, termasuk baju tahan panas dan alat bantu pernapasan (breathing apparatus) untuk melindungi keselamatan petugas saat memadamkan kobaran api.
Penyiagaan 71.714 Personel dan Kolaborasi Lintas Sektor
Guna memastikan kesiapsiagaan operasional di seluruh Indonesia, Polri menyiagakan total 71.714 personel dari dua unsur utama, yang siap digerakkan sesuai kebutuhan di lapangan:
- Pasukan Korshabara: Sebanyak 48.354 personel disiagakan di berbagai jajaran.
- Pasukan Korbrimob: Sebanyak 23.360 personel disiagakan untuk penugasan penanggulangan karhutla.
Upaya penanganan karhutla di lapangan juga terus dilakukan secara sinergis bersama instansi terkait. Salah satu implementasi penanganan bersama telah berlangsung di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, pada Selasa (18/8), ketika Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim gabungan bergerak memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.






