Bentuk sarang lebah yang berupa jalinan segi enam atau heksagon telah memikat perhatian para pemikir sejak ribuan tahun lalu. Pengamatan terhadap perilaku lebah ini bahkan telah dicatat oleh filsuf Aristoteles pada era Yunani kuno, yang kemudian disusul oleh pengamatan Marcus Terentius Varro dari Romawi pada abad pertama sebelum Masehi. Ruang-ruang kecil di dalam sarang tersebut memiliki peran serbaguna dalam kehidupan koloni, yakni untuk menyimpan madu dan serbuk sari. Selain itu, ruang tersebut juga menjadi tempat bagi larva lebah untuk tumbuh dari fase telur hingga menjadi lebah dewasa yang siap bekerja untuk koloninya.
Dalam proses pembuatannya, lebah pekerja mengandalkan kelenjar lilin di bawah perut mereka yang menghasilkan kepingan lilin transparan. Kepingan ini kemudian dilembutkan menggunakan rahang dan cairan mulut sebelum ditempelkan ke dasar sarang. Menariknya, bentuk awal sel yang dibangun lebah sebenarnya tidak pernah langsung berupa segi enam, melainkan lebih menyerupai tabung atau silinder bundar. Untuk mempermudah pembentukan bahan, lebah menggetarkan otot terbangnya agar suhu di sekitar sarang meningkat cukup tinggi guna melunakkan lilin. Penelitian oleh Francesco Nazzi yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada tahun 2016 menunjukkan bahwa lebah tidak sekadar membiarkan gaya fisika bekerja secara pasif, tetapi mereka secara aktif menekan, menarik, serta menyesuaikan posisi setiap dinding sel baru.








