Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa upaya untuk menurunkan kadar nikotin pada tanaman tembakau hingga berada di bawah satu persen merupakan tantangan biologis terbesar yang dihadapi oleh sektor pertanian Indonesia saat ini. Tantangan mendasar ini muncul karena kondisi alami dari komoditas tembakau yang ada di dalam negeri. Hingga saat ini, belum ada satu pun varietas lokal murni Indonesia yang tercatat memiliki kadar nikotin di bawah ambang batas satu persen tersebut.
Secara alami, mayoritas tembakau rajangan serta bahan baku kretek dari berbagai daerah penghasil utama di Indonesia memiliki kandungan nikotin yang tergolong tinggi. Varietas-varietas yang berasal dari daerah seperti Temanggung, Boyolali, maupun Garut diketahui memiliki kadar nikotin alami yang berkisar antara tiga hingga delapan persen. Kenyataan biologis ini membuat pengembangan varietas baru yang berkadar nikotin rendah membutuhkan penanganan ilmiah yang sangat serius dan terukur.
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementerian Pertanian, Yudi Wahyudi, menjelaskan bahwa pengubahan tanaman tembakau secara agronomis dan ilmiah untuk mencapai tingkat nikotin yang ekstrem dapat dilakukan melalui tiga jalur utama. Dalam keterangannya pada Senin, 27 Juli 2028, Yudi menegaskan bahwa ketiga pendekatan tersebut membutuhkan proses ilmiah serta tahapan agronomis yang panjang. Oleh karena itu, metode-metode ini tidak dapat menghasilkan varietas baru dalam waktu yang singkat.
Kemensos Mulai Keluarkan Penerima PKH dan Sembako dari Desil 5-10

Pendekatan pertama yang dapat ditempuh adalah melalui pemuliaan atau persilangan konvensional (breeding). Langkah ini dilakukan dengan cara mengawinkan varietas lokal unggul yang diketahui memiliki karakter fisik kuat dengan varietas asal luar negeri yang secara genetik sudah memiliki kadar nikotin sangat rendah. Namun, proses pemuliaan ini memerlukan waktu yang panjang karena membutuhkan puluhan generasi persilangan. Jumlah generasi yang banyak ini wajib dilalui agar sifat rendah nikotin pada tanaman baru dapat benar-benar stabil, sekaligus tanpa mengurangi daya tahan tanaman terhadap serangan hama maupun kemampuan beradaptasinya di lahan tropis.
Jalur atau pendekatan kedua dilakukan dengan memanfaatkan rekayasa genetika modern, yaitu melalui teknologi gene editing CRISPR. Dalam metode bioteknologi ini, tindakan difokuskan pada bagian akar tanaman yang menjadi tempat diproduksinya nikotin sebelum senyawa tersebut dialirkan menuju daun. Para ilmuwan melakukan penonaktifan terhadap gen pembentuk enzim spesifik yang berada di akar tanaman tembakau tersebut, sehingga produksi nikotin dapat dihentikan atau dikurangi sejak dari akar.
Harga Minyak Melejit, IHSG dan Rupiah Kompak Melemah |Republika Online

Adapun pendekatan ketiga tidak melibatkan pengubahan genetik, melainkan melalui modifikasi teknik budidaya atau agronomi secara langsung di lahan pertanian. Untuk menekan akumulasi kadar nikotin pada daun tembakau, petani dapat menerapkan beberapa langkah teknis. Langkah-langkah agronomi tersebut meliputi pengurangan penggunaan pupuk nitrogen, tidak melakukan tindakan pemangkasan pucuk tanaman (topping), serta senantiasa menjaga kecukupan air selama masa perawatan tanaman.
Meskipun ketiga jalur ilmiah dan agronomis tersebut dapat dilakukan, Kementan mengingatkan bahwa keberhasilan menghasilkan varietas rendah nikotin belum menjamin tanaman tersebut dapat langsung diterapkan di seluruh daerah. Menurut Yudi, karakter tanaman tembakau sangat dipengaruhi oleh faktor terroir, yakni kombinasi antara kesesuaian tanah, ketinggian lahan, cuaca, dan mikroklimat. Selain faktor kesesuaian alam dan lingkungan, penerapan varietas baru juga sangat bergantung pada keputusan petani. Para petani di lapangan akan mempertimbangkan dengan matang nilai ekonomi serta kepastian pasar sebelum mereka memutuskan untuk beralih menanam varietas baru tersebut.






