Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Menghadapi peristiwa kebakaran tersebut, tim gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan penanganan dan pemadaman secara intensif di lapangan. Di tengah peristiwa ini, keselamatan kawanan gajah sumatera serta keberlangsungan habitat satwa liar di kawasan konservasi menjadi perhatian utama.
Kementerian Kehutanan memastikan tidak ada satwa gajah yang terdampak langsung oleh peristiwa kebakaran hutan dan lahan tersebut. Pengawasan terhadap keberadaan dan kondisi kawanan gajah di TNWK dilakukan secara berkala dan terukur guna memastikan posisinya tetap aman dari jangkauan sebaran api.
Pemanfaatan GPS Collar untuk Mengetahui Posisi Satwa
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Dr. Ahmad Munawir, menjelaskan bahwa pemantauan terhadap kondisi dan pergerakan gajah di TNWK bertumpu pada alat GPS collar yang terpasang pada satwa liar tersebut. Melalui transmisi data periodik, tim pemantau dapat mengetahui pola pergerakan kelompok gajah secara langsung.
Berdasarkan pemantauan instrumen tersebut saat karhutla berlangsung, lokasi kobaran api berada di bagian selatan kawasan TNWK. Sementara itu, kelompok gajah yang dipasangi GPS collar terpantau berada di bagian utara kawasan. Keberadaan kelompok gajah di area utara tersebut membuat posisi mereka berada cukup jauh dan terhindar dari titik kebakaran.
Banyuwangi Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Penggunaan teknologi GPS collar dinilai sangat krusial dalam mendukung mitigasi kawasan konservasi, terutama karena luasan TNWK yang mencapai sekitar 125.000 hektare. Luas wilayah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melaksanakan pemantauan dan pengawasan di lapangan secara menyeluruh.
Sebaran Titik Api dan Luas Area Terdampak di TNWK
Penanganan karhutla di TNWK dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari personel Balai TNWK, jajaran TNI-Polri, unsur pemerintah daerah, serta masyarakat setempat. Ahmad Munawir menuturkan bahwa api utama berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.00 WIB pada Sabtu malam. Pemantauan lanjutan yang dilakukan hingga sekitar pukul 23.00 WIB memastikan sudah tidak ada lagi titik api yang tersisa di lokasi tersebut.
Mengenai dampak kerusakan lahan, Ahmad menyampaikan bahwa luas area yang terbakar sementara ini diperkirakan mencapai sekitar 600 hektare. Meski demikian, luasan 600 hektare tersebut masih bersifat estimasi awal dan akan diverifikasi serta diukur kembali guna memastikan total luasan area yang terdampak secara akurat.
Pekanbaru Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Tidak Sehat

Selain titik kebakaran utama, kebakaran juga terjadi di kawasan rawa gambut Resort Kuala Penet dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 673,4 hektare. Upaya pemadaman di Resort Kuala Penet melibatkan sekitar 250 personel gabungan hingga akhirnya api berhasil dikendalikan pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Penanganan Titik Baru dan Evaluasi Kondisi Satwa Liar
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, menyampaikan bahwa setelah mengendalikan titik api sebelumnya, personel gabungan langsung mengalihkan fokus penanganan. Pada Minggu (23/8/2026), tim gabungan bergeser ke lokasi kebakaran baru di Braja Luhur untuk melakukan pemadaman lanjutan di area tersebut.
Di samping operasi pengendalian api, pemantauan terhadap kondisi keanekaragaman hayati terus berjalan. Petugas di lapangan memastikan bahwa hingga kini belum ditemukan bangkai satwa liar, seperti ular, trenggiling, rusa, maupun jenis satwa lainnya di lokasi-lokasi yang terdampak kebakaran.






