Dinamika ekonomi global terus menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan pengambil kebijakan di Indonesia. Pada hari Rabu, 19 Agustus 2026, CNBC Indonesia menyelenggarakan sebuah dialog mendalam dalam program Regional Power Lunch. Dialog tersebut menghadirkan Crysania Suhartanto sebagai pembawa acara yang berdiskusi secara langsung dengan Elvan Chandra Widyatama, seorang FX Analyst di CNBC Indonesia. Diskusi ini mengupas tuntas mengenai bagaimana proyeksi kebijakan moneter dalam negeri, khususnya mengenai potensi pergerakan BI Rate serta bagaimana nasib nilai tukar rupiah hingga akhir tahun 2026 mendatang. Ketidakpastian global yang masih tinggi menjadi latar belakang utama dari pembahasan yang menarik perhatian publik ini.
Salah satu fokus utama dalam dialog tersebut adalah arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dijalankan oleh Bank Sentral AS atau The Fed. Elvan Chandra Widyatama menjelaskan bahwa masih terdapat potensi yang cukup besar bagi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga acuan mereka. Potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS ini diperkirakan dapat terus terjadi hingga akhir tahun 2026. Tekanan dari kebijakan The Fed ini tentu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi pasar keuangan global, termasuk pasar keuangan domestik di Indonesia yang senantiasa berinteraksi dengan dinamika ekonomi luar negeri tersebut.
BI Rilis Skema Lindungi Aset Rupiah Investor Global dari Gejolak Kurs

Selain kebijakan dari Amerika Serikat, faktor global lain yang turut dibahas dalam Regional Power Lunch tersebut adalah berlanjutnya gejolak harga minyak dunia. Fluktuasi atau gejolak harga minyak yang terus berlangsung ini memiliki efek berantai yang sangat erat kaitannya dengan tingkat inflasi. Ketika gejolak harga minyak dunia terus berlanjut dan memberikan efek terhadap inflasi global maupun domestik, bank sentral di berbagai negara harus merumuskan kebijakan yang sangat hati-hati. Hubungan antara gejolak harga minyak dan efeknya terhadap inflasi ini menjadi salah satu variabel penting yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga acuan secara global maupun domestik.
Melihat berbagai tekanan eksternal tersebut, Elvan Chandra Widyatama memberikan estimasi mengenai langkah yang mungkin diambil oleh Bank Indonesia. Menurut analisisnya, peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas atau menurunkan BI Rate terbilang cukup kecil dalam situasi saat ini. Alih-alih memotong suku bunga, Bank Indonesia justru dihadapkan pada pilihan untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan. Peluang pemangkasan BI Rate yang kecil ini mencerminkan betapa terbatasnya ruang gerak kebijakan moneter dalam negeri di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan The Fed dan gejolak inflasi akibat harga minyak.
Penyelesaian Data Antrean Haji Invalid dan Rekening Dorman Rp10 Triliun

Lebih lanjut, Elvan Chandra Widyatama memaparkan bahwa potensi kenaikan BI Rate di masa mendatang akan sangat bergantung pada dua faktor utama. Faktor pertama adalah pergerakan nilai tukar rupiah, dan faktor kedua adalah arah kebijakan Fed Funds Rate (FFR) yang ditetapkan oleh The Fed. Hubungan kausalitas ini sangat jelas: jika Bank Sentral AS memutuskan untuk mendongkrak atau menaikkan FFR, maka BI Rate juga memiliki peluang atau kesempatan untuk ikut naik demi menjaga stabilitas. Oleh karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah dan arah kebijakan FFR akan menjadi kompas utama bagi pergerakan BI Rate hingga akhir tahun 2026.






