Raut duka tak bisa disembunyikan dari wajah Ben saat ia tertahan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Niatnya untuk segera tiba di kampung halaman guna menghadiri prosesi pemakaman sang ibu harus pupus setelah penerbangannya dibatalkan mendadak.
Ben menempuh perjalanan jauh dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan semula dijadwalkan tiba di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu, 6 September 2026. Tiket penerbangan seharga Rp 4,3 juta sudah ia kantongi demi bisa melihat sang ibu untuk terakhir kali sebelum dikebumikan. Namun, langkahnya terhenti di bandara transit setelah sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa otoritas penerbangan menghentikan seluruh jadwal keberangkatan dan kedatangan.
Akibat pembatalan rute tersebut, Ben terpaksa bermalam di bandara sembari menanti kepastian jadwal keberangkatan lanjutan, sementara prosesi pemakaman ibunya di Sumba tetap berlangsung tanpa kehadirannya.
Dua Strategi Tangani Abu Anak Krakatau

Ratusan Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik
Kondisi yang dialami Ben merupakan bagian dari dampak luas penutupan operasional di Bandara Soekarno-Hatta. Manajemen bandara mencatat sedikitnya 624 rencana penerbangan terdampak pada Senin, 7 September 2026.
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta, Yudistiawan, merinci bahwa dari total 624 jadwal penerbangan tersebut, sebanyak 461 merupakan rute domestik, 156 rute internasional, dan 7 penerbangan kargo. Gangguan operasional massal ini berdampak langsung pada sekitar 75.236 calon penumpang.
Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) terkini, penutupan operasional sementara di Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB. Maskapai Garuda Indonesia Group juga telah mengumumkan bahwa tidak ada aktivitas penerbangan yang dioperasikan dari bandara tersebut sepanjang hari Senin.
Bandara Soetta Masih Tutup Imbas Abu Vulkanik Krakatau, Bus Gratis Jadi Pilihan

Penanganan Penumpang di Terminal
Menghadapi penumpukan calon penumpang di terminal, pengelola bandara mengaktifkan skema Service Recovery Action (SRA). Bantuan berupa makanan ringan dan minuman dibagikan kepada para penumpang yang terdampak pembatalan dan penundaan.
Selain itu, pihak pengelola menyediakan armada bus di setiap terminal untuk mengantar calon penumpang menuju hotel rekanan melalui koordinasi dengan pihak maskapai terkait. Sejumlah fasilitas internal bandara, termasuk employee lounge, turut dibuka sebagai area istirahat darurat bagi penumpang. Otoritas bandara juga mengoperasikan posko khusus di Terminal 1B guna memperkuat alur koordinasi dan penanganan kondisi operasional di lapangan.






